Recent Posts

Contributors

Kampung Batu, Kota Tua di Brunei Darussalam

Thursday, 21 June 2018



Saat kami sudah lelah mengelilingi Kampong Ayer menggunakan taksi air, kami kembali ke Bandar. Hari itu tidak ada rencana yang jelas kami hendak kemana lagi setelah ini. Saat di Bandar, stasiun bus di kota Bandar Seri Begawan seseorang menyarankan kami untuk mengunjungi Kampung Batu. Di Kampung Batu terdapat beberapa meuseum, diantaranya meuseum arkeologi dan meuseum maritim Brunei Darussalam. Selain itu, di sana juga terdapat makam Sultan Brunei Darussalam yang dahulu-dahulu. Kami sempat bingung karena hari pun sudah sore. Takutnya, kami tidak mendapatkan lagi bus untuk pulang kembali dari Kampung Batu ke Bandar.

Keputusannya sudah diambil, kami memberanikan diri untuk pergi ke Kampung Batu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 Waktu Brunei Darussalam. Kami sepakat untuk kembali ke Bandar pada pukul 17.30 . Ini memungkinkan kami untuk kembali ke penginapan pukul 18.00 dari Bandar. Saat tiba di Kampung Batu, suasana begitu sepi. Tidak ada kesibukan apa-apa di kampung ini. Kami kemudian berjalan kaki menuju meuseum maritim. Kami terlambat beberapa menit, meuseum telah tutup 15 menit yang lalu, haha. Untuk menghibur diri, kami beristirahat di taman di belakang meuseum yang berhadapan langsung dengan danau.





Kampung Batu ini diyakini sebagai ibu kota kuno Brunei Darussalam, sebelum munculnya Kampong Ayer, yang lebih jauh ke pedalaman. Menurut sumber, Silsilah Raja-Raja Brunei, Kota Batu didirikan oleh Sharif 'Ali bin' Ajlan ibn Rumaithah bin Muhammad. Di antara para pekerja pendiri adalah orang-orang Cina. Istana, masjid, dan lembaga pendidikan dibangun di pusat Kesultanan yang sedang berkembang pesat. Selama masa pemerintahan Muhammad Hassan, ada "dua istana dalam kompleks persegi yang dikelilingi oleh tembok" di Kota Batu.


Yang membuat Kampung Batu ini spesial bagi saya adalah, di sini terdapat makam yang menggunakan batu nisan Aceh. Makam berinskripsi ini saya ketahui setelah seorang kawan tau bahwa saya sedang berada di Brunei Darussalam. Dia mengirim sebuah jurnal penelitian milik Ludvik Kalus dan Claude Guillot tentang persamaan batu nisan kuno di Brunei Darussalam dan Aceh. Jurnal tersebut ditulis dalam bahasa Perancis, kamu bisa membacanya di sini dan disini.



Selain di Kampung Batu, nisan berinskripsi ini juga terdapat di Rangas, Kianggeh, Residency, Ujung Bukit, Pulau Pendayan, Limbongan, Makam Diraja, Alangan Damit, Tumasek, Alangan Besar, Menjalin, dan Udok-Udok. Memang Aceh memberi kontribusi besar terhadap Asia Tenggara. Hal ini pernah ditulis oleh seorang pakar sejarah, Tgk Taqiyuddin Muhammad dalam jurnalnya, di sini

Perjalanan ke Kampung Batu ini menyisakan kenangan yang sangat menggugah. Tinggalan-tinggalan sejarah dan hubungan yang diciptakan dari zaman dahulu mengikat hati saya dengan Brunei Darussalam ini. Sebelumnya saya pernah mengunjungi beberapa situs sejarah batu nisan Aceh di Melaka, Malaysia. Tetapi, pengalaman ke Brunei Darussalam ini sangat berbeda. Islam dan sejarahlah yang mengikat hati saya.




No comments:

Post a Comment