Recent Posts

Contributors

The Salesman, Harga Diri Seorang Lelaki

Friday, 27 October 2017

Shahab Houssein (Emad) dan Taraneh Alidoosti (Rana). Foto; metacritic.com


Di meja warung kopi tempat saya sering duduki, tidak banyak kawan yang mau bersusah payah merenung setelah menonton sebuah film. Itulah mengapa selera film anak muda masih berputar-putar di tema yang sama, aksi dan perang. Jika tidak ada adegan tembak-menembak, bom-boman, pukul-pukulan, film akan terasa membosankan. Kemudian pilihan filmnya juga yang minimal menduduki tangga box office hollywood. Jika film hanya diisi dengan dialog dan adegan-adegan, jelas film akan terasa sangat membosankan bagi mereka. Kecuali film itu dibumbui dengan komedi, seperti film Aceh yang diproduksi hingga 10 kali (10 bagian) itu. Namun ada sebagian juga yang sudah mulai mencoba untuk merasakan kebosanan dengan menonton film yang tidak jelas endingnya. Saya adalah dari sebagian itu. Saya termasuk orang yang bosan dengan cerita sederhana menggunakan kemasan modern seperti King Arthur The Legend of Sword. Saya rasa Wikipedia juga menyediakan cerita King Arthur, hanya saja tidak dikemas dengan VFX. Namun, film ini tetap disukai karena dibuat dengan apik seperti adegan Arthur membunuh mengunakan excalibur ditampilkan memakai metode Bullet Time Shoot. Tetapi inti yang bisa saya tangkap, cerita konflik klasik masih menjadi pegangan sutradaranya untuk bercerita. Balas dendam yang diwariskan karena kudeta kekuasaan dan sudah tertebak siapa yang akan unggul di akhir film. Walaupun demikian, dengan hadirnya David Beckham, film ini menarik perhatian saya.

Saya mulai mencari film dengan cerita yang tidak biasa. Pencariannya pun berhenti di film Iran, About Elly. Dan saat itu koleksi untuk tontonan pun mulai bervariasi. Mulai dari The Salesman karya Asghar Farhadi, hingga film Israel yang super duper membosankan, Gett: The Trial of Viviane Amsalem, karya  Ronit Elkabetz. Menuntut berfikir setelah menonton jelas bukan pilihan. Karena sebagian besar dari kita menonton film hanya sekedar mengentertaint jiwa yang sibuk seharian karena bekerja. Tetapi untuk menambah pengetahuan dan wawasan keilmuan, kita harus bersedia duduk berfikir kira-kira si sutradara gila apa gak ada kerjaan. Bukan tidak cacat juga, semua karya punya celah untuk dikritisi. Dan jangan mengira pekerjaan mengkritisi itu mudah. Minimal kamu harus baca banyak buku dan nonton banyak film agar bisa mencari-cari kesalahan orang.


Setelah sempat menonton film The Salesman semalam, saya mencoba-coba untuk mencari kesalahan Asghar Farhadi. Sayangnya, justru  kesalahan sendiri yang saya temukan. Saya terlena dengan metode cut to cut yang dipakai oleh Farhadi. Metode sederhana dalam editing ini bahkan belum mampu saya terapkan di film-film dokumenter yang coba saya buat. Juga terpana pada cara Asghar Farhadi membawa penonton begitu dekat secara emosi juga mungkin fisik. Sepanjang film, shoot-shoot yang ditampilkan hampir sebagian besar adalah middle shoot dan close up. Kita merasa berada didalam konflik yang sedang dirasakan Emad (Shahab Hosseini). Bagaimana perasaannya setelah mengetahui kejadian yang terjadi pada istrinya Rana (Taraneh Alidoosti). Bagi warga Iran atau mungkin Muslim umumnya, melindungi wanita adalah sebuah kebanggaan. Jika terjadi perihal yang meruntuhkan martabat istri (wanita), mereka sangat murka. The Salesman membahas ini dengan sangat pelan-pelan. Kejadian demi kejadian terjadi tanpa bisa ditebak oleh penonton. Satu lagi yang saya suka dari film Asghar adalah, dia bisa menciptakan adegan dalam benak penonton tanpa harus secara terang menampilkannya didalam frame. Setelah menonton About Elly, saya bahkan mewanti-wanti teman yang belajar di pesantren untuk menonton film tersebut. Alasan saya, supaya mereka berubah mindset tentang film. Karena ketika film disebut, maka adegan yang tidak dapat diterima oleh kalangan pesantren, seperti saling ciuman, masih ada dalam pikiran mereka. Pada About Elly, Tak ada sebuah adeganpun yang menuntut pemeran pria dan wanita untuk bersentuhan badan, juga membuka kerudung bagi pemeran wanita. Namun film ini memiliki cara bertutur timur yang kuat. Ekspresi wajah Rana setelah kejadian didalam kamar mandi, menjadi tanda apa yang terjadi dan tidak ditampakkan secara tersurat oleh Asghar.Namun penonton bisa merasakan secara mendalam perasaan trauma Rana, tanpa harus menambahkan scene Rana berteriak, kaca pecah, dan pelaku lari.



Metode cut to cut Asghar Farhadii, setelah shoot Emad di pintu, di cut langsung ke kamar bersama istrinya

Pasangan ini merupakan contoh dari kebanyakan pasangan suami istri kelas menengah di Iran. Mereka berdua terpaksa pindah dari apartemen karena kerusakan. Kemudian rekan kerjanya di teater, Babak menawarkan apartemen baru untuk tempat tinggal mereka. Tanpa mereka ketahui, penyewa sebelum mereka adalah wanita panggilan (pelacur). Sehingga, mulai dari sinilah Asghar membangun konflik yang berhasil membuat penonton marah bercampur takut akan predator pelanggan wanita tersebut yang salah menangkap mangsanya. Rana menjadi korban salah sangka tersebut, sehingga Emad, suaminya murka dan Asghar mulai mewakilkan perasaan (sifat) lelaki diseluruh dunia ketika istrinya dilecehkan.


Sasaran murka penonton sementara jatuh kepada pelaku salah sangka tersebut. Hingga Asghar membuat kaget, bahwa pelaku tersebut merupakan suami penyayang dimmata keluarganya yang jjuga mengidap stroke. Ketika sampai pada scene ini, saya teringat film Ine Febrianti, yang berjudul; Tuhan Jam 10 Malam. Bagaimana kejahatan tetap bersemayam pada diri seseorang walaupun mayoritas telah menganggapnya orang baik. Disini Asghar mencoba memutuskan kepada penonton dua masalah yang rumit. Kebencian dan kasih sayang (memaafkan). Emad membuat pelaku salah sangka terancam nyawanya, disamping dia merupakan nyawa bagi istrinya yang sudah 35 tahun dinikahi. Bagaimana jika harga diri berbenturan dengan nurani?. Sampai sekarang saya masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan bahwa Asghar akan membuat film dengan kegilaan lainnya. 

1 comment: