Recent Posts

Contributors

Orang Yang Kalian Anggap Biasa Saja, Ternyata Punya Jiwa Sebesar Samudera - Sebuah Kisah

Wednesday, 4 October 2017
Kak Marnizar bersama suaminya


Syeikh Abdussamad Al-Falimbani dalam kitab karangan beliau, "Siyarus Salikin" menulis bahwa, kebanyakan dari manusia taubat dari maksiat yang zahir seperti taubat daripada dosa mencuri, dsb. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat dari pada maksiat yang bathin seperti riya, takabbur, dsb. Kitab karangan beliau tersebut merupakan intisari dari kandungan kitab Ihya Ulumiddin karangan Imam Al-Ghazali. Dua ulama ini sangat memperhatikan perihal riyadhun-nafsi atau membersihkan hati dari hawa nafsu. Mereka juga sangat menganjurkan untuk beribadah bathin, seperti tawakkal, ridha, syukur dsb. Imam Al-Ghazali pernah menulis di dalam kitab beliau bahwa hal pertama yang harus dilakukan oleh penuntut ilmu adalah membersihkan hati daripada sifat-sifat kejahatan yang merupakan maksiat bathin, seperti ujub, riya, takabbur dsb. Beliau mengumpamakan sifat-sifat tersebut seperti anjing, dan hati itu seperti rumah. Malaikat yang bertugas membawa ilmu Allah ke dalam hati manusia, tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada anjingnya. Begitulah keseriusan beliau dalam membicarakan masalah hati.

Zaman sekarang, kita lebih banyak disibukkan dengan ibadah yang zahir sehingga melupakan ibadah yang batin. Padahal Rasulullah pernah menceritakan bahwa akhlak yang mulia adalah sesuatu yang paling berat timbangannya daripada puasa sunnah dan shalat sunnah. Namun bukan berarti kita tidak memperhatikan ibadah yang zahir, karena hal  itu merupakan perintah Allah dan amaran Rasulullah juga.

Tulisan di atas hanya bahan renungan saya saja. Di sini saya ingin berbagi sebuah kisah nyata seorang kakak yang saya kenal lewat facebook, nama beliau di fb adalah Ismi Marnizar. Saya suka dengan cerita-cerita yang beliau tulis di facebook. Ceritanya tentang keseharian beliau bersama keluarga, anak-anak. Ceritanya disajikan secara ringan dan singkat, juga diselipkan humor tapi sarat akan pesan yang dalam. Hingga kemarin saya membaca postingan yang ingin saya bagikan sekarang. Kisah ini adalah kisah mula yang mengantar beliau menjadi seorang istri dari suami yang sekarang sudah memberikan beliau dua orang anak perempuan yang lugu. Tulisan berikut saya posting kembali di blog ini atas izin beliau, juga asli tanpa pengeditan. Jika kalian ingin membaca versi aslinya, bisa baca di sini. Selamat membaca

Part 7
coba teman2 bayangkan. Bagaimana rasanya bila seorang ikhwan yg terlihat sholeh, mempesona, menjaga pandangan, berjenggot sunnah, mahasiswa sebuah universitas ternama, smart, dan calon hafidz, ketika hendak pamit melanjutkan pendidikannya, ia mengirim sebuah pesan kpd kita.
"Selesai pendidikan ana dijakarta nanti, ana akan kembali ke Aceh utk meminang ukhti. kita akan membangun sebuah keluarga Qur'ani yg akan melahirkan jundi2 penegak agama Allah yg mulia.. ana minta ukhti bersedia menunggunya"
Saya rasa siapapun wanita yg mendapatkan pesan semanis itu, hatinya akan berbunga bunga. Entah lagi saya, gadis desa berusia 18tahun yg memang tdk pernah berkenalan dekat dgn seorang pria.
Sekarang coba bandingkan, dgn lelaki ditenda, yg saban hari bercanda, membuat jengkel, tdk menjaga pandangan (kenapa menjaga pandangan trs yg sy bahas? sbb laki2 yg menjaga pandangan itu sungguh mulia, dan ia sangat langka). KeMana kira2 yg membuat hati teman2 condong?
Rasanya siapapun kita, akan terhipnotis dgn ikhwan sholeh calon hafidz tadi.
"Dan tentu saja, lelaki yg nernama fachrur itu tdk ada apa2nya". saat itu batin saya berkata.
------
Bulan demi bulan berlalu.
Tak ada perubahan signifikan
ia msh ttp tertawa dg kekonyolan2 yg ia ciptakan. Senang sekali menjahili saya. dan sy sdh menganggap hal itu biasa saja. Sudah kebal kalo bahasa anak muda.
Waktu terus saja merangkak. hingga tanpa sadar, adik2 dipengungsian sdh mendapatkan sekolah yg layak. Sekolah negri yg terdekat dgn tenda2 mereka. Hingga sekolah tenda kami dirasa sdh tdk diperlukan lagi.
----
Tiba saatnya hari perpisahan.
"Kita sdh sama2 disini selama lebih kurang 9bulan sejak relawan dari jalarta datang. Saya selaku PJ selama mereka tdk ada lagi disini, memohon maaf bila memang ada tingkah dan omongan saya yg tdk berkenan dihati teman2. semoga yg kita lakukan selama ini berdasarkan keikhlasan, hingga pahala lah imbalannya"
fachrurrazi menutup rapat kecil acara perpisahan hari itu.
---'
Perpisahan adalah seremoni menyambut hari2 penuh rindu. Rindu kpd teman2 seperjuangan yg selama ini bercanda, bercerita bahkan berpuasa bersama sama.
Rindu bertilawah dan saling bertausiyah.
Rindu menangis sambil membaca al maghsurah.
Rindu... semua yg terekam adalah yg manis.
----
kak rahmi, kak nur, lina, kak cut, kita berpelukan sambil menangis. Walaupun mungkin rumah kita hanya berjarak 5 langkah, namun bila memang Tuhan tdk menaqdirkan, kita tdk akan bertemu juga. apalagi kami kuliah di universitas yg berbeda beda.
"jgn lupa saling ksh kabar ya..."
kata kak rahmi dgn mata berkaca kaca.
Sementara fachrur sibuk merapikan berkas2 yg akan dibawa pulang.
"saya duluan yg teman2.. assalamu'alaikum.." pamit ia sambil menstrater sepeda motornya.
----
Lina menemaniku pulang.
Kami berjalan kaki.
Tiba2 ia bertanya:
"mar, fachrur tanya, kamu sdh punya calon?"
"calon apa?" sy balas bertanya dg berpura pura2 kaget. padahal sdh tau yg dimaksud apa. πŸ˜œtp wanita kan memang suka begitu ya? suka bertele tele
"calon suami!"
"ooh...bilang saja sudah ya..." jwb ku.
"hah? kamu yakin?"
"iya. insyaAllah"
-----
Hari2ku seperti biasa kembali.
Kuliah, Liqo' (ngaji), juga ngajar les privat anak2. Hitung2 mengisi waktu luang. biar tdk bnyk pikiran.
Tdk pernah bertegur sapa apalagi bersua dg teman2 relawan yg dulunya ditenda. kita sibuk dg kesibukan masing2.
Hingga suatu hari setelah sekian lama, kudengar ibu bercerita:
"fachrurrazi kecelakaan. lengan kanannya patah. sekarang msh blm sadar. kau tdk mau menjenguk?"
Aku kaget.
Namun kutanggapi biasa saja:
"ibu saja yg menjenguk"
"kau tdk ikut?"
"tdk baik, buk.."
Akhirya ibu pergi bersama ayahku.
---
maafkan aku ibu..
aku tdk bisa menjenguknya..
Dihatiku ada seseorang yg hrs kujaga perasaannya.
betapa bodohnya saya saat itu.
menjaga hati nya agar tdk terluka.
Padahal sy sendiri tdk tau dia disana sdg apa? dgn siapa? memangnya dia siapanya saya? Hanya satu senjata kuat yg kupunya. PERCAYA. dan entah iya?!


Kemudian, sambungannya ......


part 8
Aku resah.
Resah menunggu kabar dari ibu yg pergi menjenguknya. Resah bukan karena apa2, Aku terlalu jutek padanya selama ini. Menganggapnya bagai duri yg mengganggu pikiranku. Mungkin istilah ini terlalu berlebihan. Namun itulah yg kurasa.
Disisi lain terkadang aku berharap:
mengapa ia tdk datang lebih awal dalam hidupku? mengapa ia malah hadir disaat seseorang telah berjanji akan menjemputku?
aah..tidak! aku tak boleh goyah!
Bukankah ikhwan disana lbh memikat hati? Lagipula ia telah berjanji. Lalu bagaimana bila terjadi sesuatu pada fachrurrazi? bagaimana kalau.... kalau seandainya nanti.... kenapa aku tdk ikut menjenguk saja tadi???!
-----
Belumpun ibu sampai dipintu rumah, buru2 aku bertanya:
"bagaimana keadaannya ibu? parahkah?"
"alhamdulillah ia sdh sadar. Tp utk beraktivitas spt biasanya kata dokter akan agak lama. sebab tangan kanannya patah lumayan berat" ibu menjeaskan.
"innalillaah..."
"dia menanyakanmu tadi"
"oh ya?" entahlah.. aku merasa senang. ia msh ingat pdku walaupun sdh sebegitu jahatnya aku kpdya.
"dia hanya bertanya, apa kamu sehat?"
"ooh...hehhe"
"dia orang yg sangat baik, mar.. orangnya lugu. apaadanya. dia pria yg sangat baik. ibu tau. Mestinya kamu juga tau"
-----
setelah kejadian itu, lamaaa sekali aku tak mendengar kabarnya.
Aku hanya fokus pada kuliah.
juga beberapa organisasi dikampus. Aku juga sdh dipercayakan memegang satu kelompok binaan di Lembaga dakwah kampus. Disamping setiap pekan, aku juga ngaji bersama murobbiku. Materi yg biasa kusampaikan ttg menjaga hati. Bagaiman menanggulangi agar virus2 merah jambu tak mengganggu kegiatan dakwah kita. Sementara dihatiku sendiri, telah kisimpan nama seseorang. Sementara dihatiku sendiri bukan hanya virus saja yg terdeteksi, namun efeknya sdh menjalar sampai ke sendi sendi. Aku merasa berdosa sekali. Layaknya lilin yg menerangi, namun membiarkan diriku terbakar sendiri.
----
Tiga semester lebih aku menunggunya.
Tidak ada komunikasi. Selain sms2 berkedok tausiyah yg mungkin hanya dikirimkan sebulan sekali. terkadang sampai 3bulan, tidakpun masuk sms sekali. Tapi entahlah.. aku bahagia saja dgn keadaan ini. Tdk terbeban sama sekali.
Lalu bagaimana dg fachrurrazi?
Aku sdh tdk peduli.
namanya nyaris hilang dari ingatan.
Mungkin boleh dibilang, sengaja aku lupakan. Semoga di luar sana, ianmendapatkan seseorang yg lbh baik dariku.
----
Aku bertilawah setiap hari.
membaca al maghsurat tiap pagi dan petang. mengikuti seminar2 ke agamaan, namun ntah kenapa, hatiku tak bisa lupa. nama yg telah ku ukir, tak bisa kubuang.
Tiga semester lebih aku menunggunya.
Aku lelah.
ada saatnya kita lelah menuggu waktu.
lelah melawan jarak.
Bukan tdk peduli, hanya saja dirikita sendiri lbh layak utk kita cintai.
----
Hingga suatu pagi sesaat sebelum berangkat kekampus, aku mendapatkan sebuah pesan singkat dari nomornya:
"maar..afwann..semoga dirimu dan keluarga baik2 saja. Kalo sempat kewarnet, tlg cek emailmu, ada ana kirim sesuatu. susah sekali bila ana jelaskan melalui hape."
Sebab buru2 kekampus, jadi pesan itu tdk sempat kubalas. Segera aku masukan ponsel kedalam saku gamis yg kukenakan. Aku pamit pada ibu.
---
Selesai mata kuliah pertama diapagi itu, aku segera keluar ruang, menunggu damri di perempatan, berniat bisa langsunh membaca email di sebuah warnet terdekat.
(dulu kalo mau mengecek email harus kewarnet. itupun kadang hrs antri bila warnetnya penuh)
Jemariku ligat memencet setiap tut dikomputer. Tak sabar membaca gerangan apa kiranya yg disampaikan.
"Salam...marnizar.. smg mar dan keluarga baik2 saja di aceh. ana tdk lupa ttg janji ana akan meminang anti. ana harap anti percaya. hanya saja sampai saat ini, tabungan utk nikah blm cukup. ana harap anti sabar menunggu ana. ana brrsungguh sungguh. tetaplah menjadi marnizar yg ana kenal. yg ceria dan bahagia"
Sedikit lega setelah membaca.
Namun ada pertanyaan yg sedikit menyesak didada. sampai kapan aku harus menunggunya?
Aku pernah dengar seorang ust berkata:
"cinta itu tdk meminta utk menunggu, bila siap ia menjemput, bila tdk, ia mempersilahkan"
terpikir sejenak, sebenarnya cinta bagaimana yg ia tawarkan?
seorang temanku juga pernah bilang, jatuh cinta itu merasa bahagia, bila rasanya resah, itu berarti jatuh tempo πŸ˜… 

Berikutnya......

Part 9
Siapa yang mau, jika disuruh menunggu berlama lama? sudah sedari jaman dulu yg namanya menunggu itu melelahkan. Semua pengorbanan rasanya akan sia sia bila tanpa kejelasan.
Tetapi bukankah cinta butuh banyak pengorbanan? tak terkecuali juga pengorbanan akan ruang dan waktu?
Benar, namun utk sebuah cinta yg benar. cinta yg halal. Sementara yg aku tunggu cinta spt apa? Terngiang kembali, sebuah petuah:
"Cinta itu simpel. Ia tidak sulit. Jika memang ia adalah jodoh, semuanya akan mudah, tidak rumit"
Bukankah aku masih muda?
Kuliah pun baru masuk semester 5?
Tidak ada salahnya mengunggu kan?
Tidak! Bagiku ini salah. 20 bulan bukan waktu yg singkat. sama sekali bukan. utk sesuatu yg tanpa sebuah kepastian. Sementara dalam kurun waktu menunggu, akan banyak sekali hal yg akan terjadi. Semua pergolakan jiwa saat itu bermuara pada satu kata: KAPAN?
Kapan pastinya ia akan menjemputku?
-----
Aku jarang sekali curhat.
Bukan tdk percaya pada teman atau sahabat. tetapi kurasa bila sesuatu hal masih bisa kuselesaikan sendiri, sebaiknya tak kulibatkan oranglain. Namun utk hal ini. Hatiku sdh lelah. Bebannya sdh terlalu berat. Aku butuh hati lain utk berbagi. Hati yg tepat. Hati yg memberi ketenangan dan solusi.
----
Sore itu selesai pengajian rutin, setelah teman2ku pulang, aku mendekati murabbiku.
"kakak, aku ingin bicara sesuatu padamu. kapan kk ada waktu?"
seperti ia mampu membaca wajah gusarku.
"Besok jam 11 boleh adek datang kemusholla kampus ya.. perbanyaklah sholat sunnah. perbanyak istghfar" jawab ia sambil menyentuh bahuku.
Rasanya Sedikit terkurangi beban itu. Walau aku belum bercerita apa apa.
----
Aku menceritakan padanya hal yg sesungguhnya. Ia mendengar dgn seksama. Tanpa menyela, tanpa menyalahkan. Lalu berkata dg tenang.
"ia sdh tidak layak ditunggu,dek.
Hilangkan saja rasa itu! Yakinlah.. jodoh kita sdh tertulis. ia tdk akan tertukar. Kamu sholihah dek. Allah akan memberikan jodoh yg pantas!"
"Baiklah kak..jazakillah utk waktu dan tausiyahmu.."
"sudah seharusnya..ukhti.. cobalah istikharah! mintalah petunjuk pada Allah"
---
Aku fokus memperbanyak ibadah.
Sholat Dhuha kuusahakan rutin. sunnah Rawatib kutingkatkan frekuensinya. Tahajud kulakukan juga walaupun berat. Bukankah hanya dg mengingat Allah hati menjadi tenang?
Sudah dua kali kulakukan istikharah, namun blm kusadari sebuah petunjuk yg meyakinkanku. Hingga suatu hari sebuah pesan singkat masuk keponselku.
Tertera namanya. Buru buru kubuka:
"Salam..mar.. ana meminta maaf, usaha ana jatuh bangkrut. niat ana utk kembali ke aceh harus ditunda lagi. Engkau masih sabar kan? insyaAllah setelah lebaran tahun ini, ana akan mengajak keluarga kesana..........." sambungannya tdk perlu dibaca lagi.
Lelah!
Sudah berapa kali lebaran ia berjanji?
ini sudah cukup! ia sudah membuang waktuku sangat banyak.
Aku mengganti nomor hapeku berharap ia tdk bisa menghubungi lagi.
---
sedih?
iya. Tak bisa kupungkiri.
Namun aku termasuk wanita yg tak mau berlama lama dlm kesedihan.
----
Aku termasuk pribadi yang easygoing. Tidak pernah menyesali setiap taqdir apapun yg terjadi padaku.Sebab aku yakin, dibalik semuanya, Allah menyimpan rahasia yg luar biasa. trmasuk juga taqdir akan waktu yg kurasa sia sia utk menunggunya. Pasti ada sesuatu dibalik itu semua.
---
Ruang kuliah pagi itu ramai.
Sebagian mahasiswa masih menunggu dosen dikoridor, sementara dalam ruangan lbh banyak. Riuh rendah suara dan tawa mereka terdengar lucu. Ada yg bergosip, bercanda, ada yg sok rajin baca bahan fotokopian. hehhehhe (tiba2 rindu suasana itu)
Aku mengambil bangku dipojokan ber 7 bersama teman segenk. Bila orang mengenalku sekilas mungkin kesan yg tampak adalah pribadi yg pendiam dan serius. Tetapi teman2 yg sdh akrab, mereka tau bahwa aku sebenarnya termasuk orang jahil πŸ˜…"hei...kalian.. kita ke IAIN yuk.." suara santi terkesan mengarah kpd kami yg saling sibuk berbicara.
"ngapain?" tanya tia yg memang kurang suka hal2 yg berbau mushola. hihihi
"mending kewarung kak mah, makan lontong. aku blm sarapan" timpal fitri.
"Marniii...kita kesana berdua aja yuk.. orang ni ga ikut ga papa" santi tampak kesal.
"hahah okeh okeh.. ada apa disana memangnya?" tanyaku
"temanku rahmati bilang, ada bazar expo anak tarbiyah di auditorium ali hasyimi"
"gak malu nanti san? kita kan bukan anak IAIN?"
"Hallah..mana tau org? yuk lah ya..."
"hahah oke sip. selesai matakuliah linguistics ya..."
----
Auditorium Ali hasyimi siang itu tampak ramai. Ada banyak spanduk juga stan2 yg memamerkan banyak barang. Juga beberapa produk handmade mahasiswa, yg banyak kutemui adalah gantungan kunci yg terbuat dari busa lunak. aku dan santi memperhatikan barang2 pameran tersebut sambil sesekali di jelaskan oleh penjaga stan.
"assalamu'alaikum marnizar" sebuah suara yg begitu familiar terdengar mengucap salam. Aku menoleh kearah kanan. kearah suara itu berasal.
"waalaikum salam.." aku grogi. tak kusangka itu dia.
"bagaimana kabarnya baik?"
"alhamdulillah..." jawbku msh blm percaya.
"silahkan diliat liat dulu..stan kami TBA ada disebelah sana" ia menunjukan sebuah stan disuatu sudut ruangan.
"saya tinggal dulu.."
seketika semilir angin yg membawa wangi bunga2 merasuk kedalam jiwa. Seakan ia meninggalkan ku dg gerakan slow motion sambil diiringi lantunan lagu KAL HOO NA HOO nya pretty zinta dan shahrukkan. hahaha
ku ingt benar, siang itu ia memakai kemeja hujau pupus, celana bahan kain warna hitam, sepatu kets birumuda berles putih di padukan dg jaket almamater bertuliskan dipundak sebelah belakangnya QISHLAH 04. Daaaan...ia sdh berjenggot! semua mengacu pada sebuah kata: SEMPURNA "siapa mar? liatnya sampe begitu" sela santi membuyarkan perhatianku.
"hehe orang kampung"
"orang kampungmu?"
"iya.."
"kok gak pernah bilang ada orang kampungmu sekeren itu?"
"aku jg baru tau. dulu ia tdk sekeren itu.hahah"
"setan itu mar... hiasan setan semuanya.jaga pandangan. istighfar mar.."
"heheh astaghfirullaah... ternyata di IAIN bnyk setan juga ya... bukan cuma dikampus kita."
"hahaha..ngaco kamu"

Kemudian........


part 10
"Beli apa kita San?" Sebenarnya lebih kepada meyakinkan Santi untuk membeli sesuatu pada bazar tersebut.
"mm...Marni aja yang beli"
Yaaah...rugi lagi πŸ˜Padahal tadi dia yang ngajak kemari πŸ˜•Aku melihat-lihat kira-kira barang apa yang tidak menguras banyak isi dompet. Akhirnya jatuh pada sebuah gantungan kunci bertuliskan IAIN didominasi warna pink dan putih.
Sebenarnya dari dulu Aku kurang suka warna pink. Namun entah kenapa saat itu pilihan malah jatuh pada warna itu. Agak norak sih pikirku.
(sampai sekarang gantungan kunci tersebut masih kusimpan. Akan kusertakan fotonya bila memang nanti cerita ini akan menjadi sebuah buku. hahaha menghayal dipagi hari)
Sesungguhnya tidak ada yang istimewa pada gantungan kunci handmade ini, Namun tiap hari kupandangi ia yang kugantung pada sebuah kunci lemari dikamar kostku.
(Oh iya, Lupa kuceritakan pada teman-teman, Bahwa Aku juga ngekost di sebuah kamar kost-an dekat kampus. Walau lebih sering pulang kerumah yang berjarak 40km lebih, alasan rindu pada ibu, rindu masakannya).
Setiap kali Aku memandangnya, seakan yang tertulis bukan IAIN, namun QISHLAH 04. Sebuah tulisan bordir komputer dipundak bagian belakang seseorang. Mempesona sekali. Padahal Aku sendiri tidak tahu apa arti dari kata itu.
"Oh Tuhaaan.. rasa apa ini?" Bertanya Aku pada diri sendiri.
Apa Sebaiknya gantungan kunci ini kusembunyikan saja? Biar aman. Tapi tidak berniat kubuang. Sayang πŸ˜…-----
Salah satu nikmat Allah yang sering kita lupa adalah Lupa. Perasaan Lupa itu sendiri adalah sebuah nikmat menakjubkan. Andai saja Allah tidak memberikan sifat lupa pada kita, maka kita tidak akan mampu melupakan setiap kejadian dalam hidup. Setiap kejadian yang menggembirakan dan menyedihkan, setiap tempat yang kita lewati, setiap orang yang pernah kita jumpai akan terus membekas jelas dalam ingatan. Dan mungkin, hidup kita akan semakin berat.
Sedikit demi sedikit Aku mulai lupa.
Lupa pada auditorium Ali hasyimi serta wangi bunga dan semilir angin yang membawa lantunan lagu kal hoo na hooo.
Aku lupa.
-----
Tetapi sepertinya Taqdir tidak membiarkan Aku lupa. Saat itu Aku dan dirinya juga tergabung dalam organisasi HIMAB (Himpunan mahasiswa Aceh Besar). Kami bersepakat melakukan penggalangan dana untuk membantu korban gempa jogja yang memakan korban lebih dari 6000 jiwa.
Penggalanngan dana di pusatkan pada tiga titik, yaitu simpang 5 Banda Aceh, simpang surabaya, dan simpang 7 ulee kareng. Kami di drop di masing-masing titik tersebut. Ketika rapat terakhir, Aku tidak bisa hadir sebab ada jadwal kuliah, jadi Aku tidak tau siapa saja anggota HIMAB yang berada satu titik denganku. Hanya Satu sms sebagai penentu:
"Besok pagi, Marnizar di simpang surabaya ya.. Ada beberapa teman lain disana. Usahakan ontime!"
Dari Rumah kost-an, Aku menumpang Damri sampai ke simpang Surabaya. Termyata Dua orang anggota sudah lebih dulu stand by.
MaasyaaAllaah.. ada kak Rahmi disitu. Relawan ditenda pengungsian dulu. Senang sekali diriku. Setelah sekian lama tak bertemu.
Ia langsung memelukku.
"Marnizaaar... sudah lama tak jumpaaa.. apa kabar?"
"alhamdulillaah.. baik kak... baik..."
"senang kak mi bisa jumpa disini. kemarin rapat datang gak? kakak cuma dikabari lewat sms"
"sama, kak.. aku juga baru dikabari tadi malam. heheh"
Bila tidak salah ingat, ada 6 orang yang di drop bersamaku di simpang surabaya saat itu, Termasuukk....
"Assalamu'alaikum... maaf Saya terlambat.. Beli masker dulu tadi.." Kata seseorang sambil mematikan mesin sepeda motornya tepat didepanku dan Kak Rahmi.
Ia memakai jas Almamater IAIN (saat itu blm jadi UIN) Berwarna biru pekat, ransel bermerk warna hitam, sambil menenteng seplastik masker untuk dipakai pada wajah setiap anggota agar terindar dari polusi asap kendaraan yang berlebihan.
Padahal Aku sudah mulai lupa.
Kenapa harus bertemu lagi??!
Bagaimana kalau ia sampai tau Aku gugup?
Bagaimana kalau tiba-tiba Aku salah tingkah?
Uh memalukan sekali.
Apa sebaiknya Aku balik saja ya? Minta digantikan dengan salah satu teman yang di simpang 5? Tidak apa-apa kan ya?
"eeh...ada Marnizar juga.. sudah sarapan?" Ia bertanya santai saja.
"alhamdulillah..sudah" jawabku sekenanya.
Duh..Ya Tuhaaan... lindungilah Hamba agar tidak terjadi hal-hal yang memalukan diri hamba sendiri. Sepertinya virus sekarang lebih dahsyat dari sebelumnya. Aku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.
Aku tidak mau berbohong pada teman-teman dengan menceritakan bahwa Aku suci. Suci dari rasa cinta pada seseorang sebelum ia halal. Tidak. Rasa itu alamiah. Hanya saja salahnya terletak pada pengelolaannya saja. Mampu dikelola dengan baik, sesuai tuntutan syariat, atau malah dikelola dan di perindah oleh syetan.
------
Ia sedikit berubah.
Penampilannya lebih bersahaja.
Apa karena pengaruh jas almamater itu ya?
Tapi rasanya bukan.
Ia memang berubah.
Tak banyak bercanda lagi.
Sifatnya juga dingin saja terhadapku.
Tak seperti dulu yang sangat sering menjahiliku.
"ini si cut kemana sih? Sudah dua kali ditelpon katanya lagi dijalan. tapi sampe sekarang belum nyampe" keluh kak rahmi sambil melirik hapenya.
"haahahaa.. kalau orangnya malas jinak begitu, sampe kesini nanti, serkuk saja, kak mi" Ia sedang merapikan masker diwajahnya menimpali seenaknya.
(malas jinak= beu oe seu iet)
(serkuk= seukok= jitak )
"hahhahah fachrur peue bahasa ka peugah haba nyan?" kak rahmi terkekeh
"hahhah serkuk, kak. serkuk"
------
Ooh...ternyata belum berubah.
Masih usil seperti dulu.
------
Tidak ada hal istimewa yang terjadi hari itu.
Hanya pertemuan sekedarnya. Lalu Aku mulai memikirkannya. Nikmatnya rasa Lupa itu seakan tidak pernah singgah lagi dihatiku.
Aku mulai mengingatnya.
Mulai mengkhawatirkannya.
Namun Aku ragu untuk menyapanya. Walau sekedar mengirim sms say hello, Aku tidak mau melakukannya. Emang eike cewe apaan?!
Apalagi bila mengingat, Jangan-jangan ia sudah melupakanku seperti Aku tidak pernah berharap ia hadir dalam kehidupanku dahulu. Yaa..mungkin ia sudah berencana membangun rumah tangga bersama seseorang.
Atau mungkin.. sesungguhnya ia tau yang kurasakan, tetapi ingin membalasnya seperti yang kulakukan padanya dulu? Ah tidak mungkin!. Ia tak sejahat itu.
-----
Hatiku mulai kotor.
Kotor oleh nama seseorang yang belum pantas kusimpan disana. Namanya belum halal untuk ku senandungkan dalam setiap do'a. Ia bukan siapa-siapa.
Seakan ujian hati tidak kunjung reda.
Hilang satu, muncul lagi yang lainnya.
Dan yang lain ini ternyata lebih berat.
Tak bisa di duga bisa saja berjumpa setiap saat.
Sepertinya hatiku mulai sekarat.
Ia butuh obat!
Satu-satunya obat adalah menikah!
Tapi dengan siapa?
yaa.. Siapa saja. πŸ˜…------
Aku resah. Bingung bagaimana cara mencari tau kabarnya? Bagaimana cara memastikan bahwa ia belum berada dalam proses taaruf dengan seseorang.
Aku juga malu bila harus curhat hal yang sama lagi kepada murabbiku. Masa baru kemarin di beri resep obat sudah sakit lagi? gengsi laah...
😁😁😁Akhirnya Aku dapat ide.
"say.. kekantin yuuk.. makan bakso" Aku mangajak seorang teman. Sengaja tak kusebut namanya disini. Untuk menjaga privasi.
"Transferan dari kampung blm masuk, Mar...ko aneh. ajak makan bakso akhir bulan begini"
"Aku yang bayaaar.. mau gak?"
"hahah serius? okeeh"
"yes!"
"asiiiik"
Kami memesan bakso dan es jeruk.
"mm...mau bantu aku gak say?"
"bantu apa?
"mm...tolong sms kenomor ini" Aku memperlihatkan sebuah nomor hape padanya.
"emang ini siapa?"
"hehehhe..ada deeeh..."
"gak mau ah! ada-ada aja kye" dia mulai sewot sambil terus memakan baksonya.
"tolonglaaah... ya... satu sms saja.."
"gak mau! bilang dulu itu siapa?!"
"yang pasti orangnya ganteng" Aku meyakinkan sambil menaikan kedua alisku.
"Sms aja sendiri"
"yaaah kalo bisa ku sms sendiri, gak mungkin aku minta tolong sama kamu, say.."
"ah! gengsi dipelihara"
"hahah bukan gengsi, say.. ini soal marwah! kamu tau marwah gak? Harga diri"
"gak mau tau aku marwah marwah begitu. kye tu, anak LDK yang tau.." jawabnya santai.
"hahhaha jangan gitu dooong... kye kan temanku yang paling baik? cobaa.. yang ngasih contekan ujian final kemarin siapa?" Aku terus merayunya.
"mm...jadi kye nyesal ngasih contekan sm aku?"
"eeh..bukaaan say..." susah juga ngomong sama teman cerewet begini.
"mau yaaa...plisss" wajah memelasku
"oke lah.. apa yang mesti kutulis?"
"sini hapenya biar kuketik saja"
-----
Temanku heterogen.
Tidak semuanya Dari LDK atau istilahnya sayap kanan. heheh
Aku membuka diri untuk berteman siapa saja.
Dan Kutemui setiap mereka unik. Istimewa dengan keunikannya masing-masing.
Aku meminta maaf pada murabbiku bila sempat membaca tulisan ini. Aku tak sebaik yang kakak sangka. Namun harus kuceritakan yang sesungguhnya, karena siapa tau seseorang yang membacanya bisa belajar sesuatu dari kisahku ini. 

Terus.........

Part 11
Aku mengetik sebuah pesan singkat:
"Salam..akhi fachrurrazi... mohon maaf bila pesan ini mengganggu, apakah akhi sedang dalam proses taaruf dengan seseorang? Ada yang ingin bertaaruf dengan antum" pura pura ka nyo kubit πŸ˜Žoke sent! Kupastikan ia terkirim.
Aku mengembalikan ponsel temanku. Kita sebut saja namanya Fira.
"coba ku tengok, apa kau ketik?" pintanya
"ada di item terkirim"
"apa nih artinya? bahasa apa ko pake?"
"hahahaa ko gausah tau. pokoknya begitu dibalas, kasih tau aku ya..hehehe"
"ho'oh"
Aku gusar.
Berharap segera mendapatkan balasan.
"sudah dibalas fir?"
"ya ampuuun Maaar.. baru juga ko kirim"
"ooh..iyaaa... hihihi"
Beberapa saat kemudian.
"kok lama ya dibalasnya?"
"mungkin dia kere kali, ga ada pulsa akhir bulan. Aneh ko, suka sama orang kere"
"hahahaa bukan suka hei..."
"lalu apa?"
Aku membayar tagihan baksonya. Lalu naik bus Damri bersama Fira pulang ke kost-an masing-masing.
-----
Jam 7 malam
Belum ada kabar dari Fira.
Semakin resah.
Jantung dagdigdug
Badan panas dingin.
Mondar mandir dari dinding kamar ini ke dinding sebelahnya.
Makan tak kenyang.
Tilawah tak fokus.
Dengar radio diputar kesana kemaripun tak ngaruh.
Jam 8 malam
Baik. kutelpon saja Fira.
"Ya maar.. ada apa?" dia kebiasaan tak pakai salam.
"assalamu'alaikum, nong.. udah ada balasan?:
"Ish.. ko niii... itu itu aja yang ditanya. Sabar haaai... kalo sdh ada balasan pasti kukirimkan"
"ingat ya.. jangan ko balas apa-apa sama dia. Cukup forward sms yang dikirimkannya saja ke hapeku"
"iyaaa hai nong khong, cerewet kaaali bah"
"hehehee sori-sori.. ini soal hidup dan mati masalahnya"
"ntah iya pun"
Ia menutup telfonnya.
Jam 9.30 malam.
Belum ada kabar juga.
Sebaiknya Aku tidur saja.
-----
Jam 03.45
Aku terbangun.
Sekeping waktu disepertiga malam adalah sebuah cerita tentang pembuktian. Pembuktian akan makna sesungguhnya tentang penghambaan seorang manusia kepada Rabbnya.
Segala pengharapan kita benar-benar akan dijawab Allah pada waktu itu. Bila selama ini kita merasa beban hidup terus saja mendera, maka diwaktu sepertiga malam itulah kita mencurahkan segala rasa yang membuncah didada. Keluhkan semuanya kepadaNya.
Aku berwudhu untuk melakukan Qiyamullail.
Terkadang Allah memang rindu pada rintihan kita. Allah sengaja menghadirkan sedikit resah dan bimbang agar kita mau mendatangiNya.
Mungkin...
-----
Hari itu minggu.
Biasanya Aku pulang kampung seminggu sekali. Tiap hari sabtu. Namun bersebab hari minggu itu ada seminar di RKU, Aku memilih tidak pulang, karena Aku salah satu panitianya.
Diam-diam Aku masih resah menunggu balasan sms kemarin siang.
Aku mengecek ponselku.
Tanpa kusadari rupanya sudah tertera satu pesan belum terbuka. Tetapi anehnya bukan dari Fira, melainkan:
"Belum ada yang bertaaruf dengan saya. Kalau marnizar berniat bertaaruf dengan saya. Saya bersedia" Pengirim: Fachrurrazi
Deg!
Muka merah padam.
Berharap tidak malu dengan memakai perantara hapenya Fira, malah tambah malu jadinya. Malu semalu malunya!
(Untuk adek-adek jangan pernah pakai cara ini ya.. sebab tidak selalu kenyataan sesuai harapan.. Bila berniat bertaaruf, bicarakan dengan murobbi atau orangtua kalian bila tidak ingin malu dahsyat seperti kurasa)
"Duuuuh... Firaaaaaa"
Pasti dia enak-enakan tuh liburan dirumah.
Habis Aku dikerjainya.
Maunya Ku tumbok-tumbok itu anak yang kutraktir bakso kemarin!
Sudah lah tamat!
Tamat dengan rasa malu!
------
Kutelpon Fira dengan perasaan campur aduk.
"Ya marnii.. ada apa?" tuh kan? ga pakai salam lagi.
"Asaalamu'alikum"
"waalaikum salam. ada apa?"
"jahat kali kok ko?"
"Jahat apa? Jangan gede-gede kali ngomongnya. Gak tau ko hari ini hari minggu? Aku lagi dipantai nih.."
"ngapain?"
"tulaaah ko gak gaul. Jadi anak-anak terus sih, makanya gitu."
"aaah..itu gak penting! kan sudah kubilang kemarin? pesannya ga usah ko balas, ko forward saja pesan yang dibalasnya ke hapeku. sekarang kan Jadi malu Akunya?"
"dia cuma balas: ini siapa? makanya aku bilang ko kemarin yang pinjam hapeku untuk sms dia."
"pasti sengaja ko kan?"
"besok kita bahas lagi ya Mar.. Aku lagi sama doi nih. qiqiiqi"
iiih...jijai benaaaarrr!
Perasaan malu sungguh tidak enak.
Rasanya diri begitu rendah dan terhina.
Apalagi bila runut kejadiannya seperti ini.
Rasanya ingin pake topeng setiap hari.
Kupikir sudah cukup.
Tak usah kupikirkan lagi.
Semakin kubalas pesannya semakin malu.
Kucukupkan saja sampai disini.
Tak mau kutanya lagi.
------
Selang beberapa hari ia Mengirim Sms dengan nada yang sama:
Kalau Marnizar mau bertaaruf dengan saya, saya bersedia
Bimbang!
kubalas jangan ya?
Ah...tak usahlah.. gengsi.
Aku kan perempuan.
Mana dia tau lagi, yang kemarin sms itu Aku πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­(Cerita disini bukan berarti menyelewengkan makna taaruf yang sebenarnya ya. Sebenarnya taaruf yang benar bukan seperti ini. Boleh ditanyakan pada mereka yang lebih paham. Aku hanya bercerita tentang kisahku yang sebenarnya)
Walau jemari begitu ingin mambalasnya, kutahan sekuat tenaga. Ini soal harga diri, bray!
Berhari-hari tak kubalas, ia mengubah redaksi smsnya. Ternyata yang bernama Fachrurrazi ini memang cerdas.
"Bersediakah Marnizar bertaaruf dengan saya?"
Naaah... yang seperti ini yang layak untuk dibalas. Terkesan ia yang berniat duluan πŸ˜Lagipula ini kali ketiga ia mengirim. Pasti ia serius. Bukan sekedar sebab membalas pesanku.
----
Perempuan itu memang menyebalkan.
Selalu ingin disanjung dan dianggap benar walaupun sudah jelas-jelas ia yang salah. 


Part 12
Aku membalas pesan yang dikirimkannya.
"Kita sudah tidak layak bertaaruf. Kita sudah saling mengenal satu sama lain. Bila Abang serius, lebih baik kita segera menikah"
"Saya rasa kita perlu bicara, tidak bisa melalui sms seperti ini. Kapan kamu ada waktu?" Balasnya lagi.
"Mau bicara dimana? Saya tidak mau teman-teman saya melihat saya berbicara dengan laki-laki. Apalagi kalo dilihat sama adik-adik binaan saya, mereka bisa illfeel sama saya"
"Jadi maunya bagaimana? Tapi kita memang harus berbicara"
"Baiklah, besok biar Saya yang kekampus Bang Fachrul saja."
Dalam hati: Yang penting Aku sudah aman dari kemungkinan dilihat oleh murabbi dan teman-teman sholihahku. hihihi
Soal Bagaimana dia dikampusnya nanti. Itu urusan dia.
------
Tiba di IAIN, Aku langsung beranjak ketempat yang ia janjikan. Kantin fakultas Tarbiyah. Sebenarnya rasa malu soal sms kemarin itu masih ada. Namun pura-pura saja memang dia yang berniat mengajak saya menikah. πŸ˜…Ia sudah lebih dulu disana sebelum Aku datang. Kantin cukup ramai kala itu.
"Apa kabar marnizar?" Sapa ia berbasa basi.
Wajahku masih berpura-pura melihat sekeliling. Asalkan tidak melihat kepadanya. Bukan soal menundukkan pandangan.Tetapi lebih kepada rasa malu.
"Baik. seperti yang Bang fachrul lihat" Aku menjawab sekenanya.
"Mau makan apa?"
"Tidak usah, saya tidak bisa lama-lama"
"Tapi ini kantin. Kita mesti punya etika. Paling tidak, pesan lah sesuatu"
"kalo begitu minum saja"
"minum apa?"
"terserah"
Percaya tidak? Kalau sebenarnya laki-laki sangat takut pada kata "terserah" yang keluar dari mulut perempuan? Kalau salah taksir bisa jadi musibah. πŸ˜…Ia memesan dua teh botol.
Aku mulai tidak nyaman.
Takut-takut ada mata yang memandang.
Bagaimana bila seandinya besok atau lusa datang laporan ke murabbiku? Waaah..bisa disidang!
"Abang serius dengan sms abang kemarin?" ecieeee udah mulai panggil 'bang'
"saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya."
"bila begitu adanya, kita harus segera menikah"
"iya, Saya memang akan meminangmu. Tapi tidak sekarang juga kan?"
"Kalo lama saya tidak bisa menunggu" tegasku yang sudah kenyang diPHP oleh seseorang.
"Sebenarnya kamu sadar gak sih apa yang sedang kamu ucapkan?"
"sangat"
"Menikah itu bukan hal gampang, Marnizar. Kita butuh banyak persiapan.. Belum lagi biayanya. Sekarang lihat! Kita mahasiswa. Segala kebutuhan hidup masih bergantung pada orangtua. Kalau kita menikah sekarang, Bagaimana saya bisa menghidupimu dan anak-anak kita nanti?" jelasnya panjang lebar.
"Bukankah Allah sudah berjanji akan menjamin rezeki bagi tiga golongan manusia, salah satunya adalah mereka yang menikah karena ingin menjaga izzah dirinya agar tak terjerumus kedalam kubangan dosa?" (ini referensi dalilnya memang sdh Aku persiapkan dari semalam πŸ˜…)
"iya Saya tau. Tapi kita kan mesti realistis juga?"
"Jadi Abang ragu? Ragu pada janji Allah tersebut?" Aku terus menerornya πŸ˜‚"Bukan raguu.. tapii... begini.."
"Kalo Abang memang ragu, Berarti saya salah. Saya tidak bisa menikah dengan oang yang ragu-ragu. Anggap saja pertemuan ini tidak pernah terjadi. Saya harus balik. Nanti sore ada kuliah lagi." Aku mengambil ranselku. Menyandangnya dibahu. Berpura pergi dari hadapannya. Berpura ya... berharap ia menahan. hahhaha
dasar perempuan πŸ˜…πŸ˜…"Tunggu dulu!"
Yes! taktik berhasil
"Jadi mau marnizar sekarang bagaimana?"
"kita menikah"
hening..
Beban diwajahnya terbaca jelas.
"Abang tidak tau bagaimana caranya membicarakan hal ini pada orangtua"
"itu terserah Abang. Sama seperti saya. Saya juga akan mencari cara bagaimana meyakinkan ayah dan ibu. Kapan kira-kira abang memberikan keputusan?" Tanyaku meminta kejelasan waktu.
"seminggu"
"terlalu lama. 3 hari bagaimana?"
"terlalu cepat"
"baik. tengah-tengah saja.Saya tunggu kabar dari Abang dalam waktu 4 hari kedepan. Saya mesti balik kekampus"
Aku beranjak meninggalkan kantin tersebut.
Tiba-tiba ia mamanggil kembali. Padahal Aku tidak berharap ia akan menahanku lagi. Memang berniat pergi.
"Tali sepatumu lepas. Kamu rapikan dulu."
ohh so sweeet.. meronaa diriku..
ehem.. stay cool.
"oh.. trimakasih" sekedarnya saja ditanggapi. jaga image πŸ˜œAku menunduk merapikan tali sepatuku yang sudah terlepas dari simpulannya. Lalu meninggalkannya dengan senyum yang kusembunyikan. uhuyy....
-----
Mulai memikirkan cara bagaimana menyampaikan hal ini pada orangtuaku. Kapan dan Kepada siapa hendaknya kuceritakan? Aku memang dekat dengan ibu. Namun bila ada masalah yang sangat serius, Aku lebih senang berkonsultasi dengan Ayah. Tapi bagaimana caranya? Kapan hendaknya waktu yang tepat? Beliau berangkat kekantor setiap pagi. Pulangnya sampai dhuhur, lalu tidur siang. Bila malam tiba, waktunya berkumpul dengan ibu dan adik-adikku. Bagaimana caranya Aku menyampaikan masalahku?
Muncullah ide dikepalaku.
Kutuliskan surat saja kepada Ayah.
Panjangnya dua lembar folio.
Kuceritakan semuanya disana. Juga kusertai beberapa referensi terjemahan hadits (meuteu oh ka nyoooo kubit) Walau sebenarnya Ayah lebih tau mungkin. Beliau Pernah kuliah di fakultas syariah IAIN. (sampai sekarang, arsip surat itu masih kusimpan. Arsipnya banyak coretan-coretan sebab yang rapi sudah kuserahkan pada Ayah)
Intinya surat sepanjang itu mengarah pada satu kesimpulan: Si Eneng minta kawin πŸ˜…Aku menyelipkan surat tersebut kedalam tas kerjanya.
"Ayah.. na surat keudron. ka lon boh lam tah. ntreuk neubaca beh. heheh" Aku malu-malu menyampaikannya. Pagi itu Ayah sedang mamakai sepatu hendak kekantor.
"surat peue neuk?" Dalam hati Ayah mungkin: peue ka i sinong nyoe ka maen surat-surat πŸ˜"ntreuk neubaca keudroe Ayah. Surat dari lon"
-----
Angkutan umum (labi-labi) yang kunaiki pagi hari itu cenderung sepi. Hanya terdapat beberapa orang laki-laki saja yang membawa barang dagangannya berupa pisang dan sayur mayur untuk dijual di pasar terdekat. Sengaja kupilih tempat duduk paling pojok agar tidak mengganggu mereka saat hendak turun labi-labi nanti. Karena Aku menumpang hingga keterminal. Naik angkutan umum sebenarnya banyak sekali manfaatnya, selain melatih tubuh agar lebih banyak bergerak. Mulai dengan berjalan dari rumah kepangkalan, juga melatih kita untuk bersosialisasi dengan baik. Sebab ada berbagai tipe manusia yng kita temui disana.
Hampir setiap hari Aku menumpang angkutan umum ini. Tetapi hari itu rasanya berbeda. Ada rasa yang menyesak didada. Apakah Ayah akan tersinggung dengan suratku? Sudahkah ia baca?
Sedikit kukenalkan diriku pada teman-teman. Ini bukan bermaksud riya atau angkuh. Sama sekali bukan!
Aku adalah anak sulung dikeluargaku.
keluarga, guru-guru dan teman-teman sekolahku mengenalku sebagai pribadi yang cerdas (maaf bila harus kukatakan demikian).
Aku selalu mendapat peringkat 1 dan 2 semasa sekolah. Bahkan saat SMA, seluruh halaman raporku bertuliskan peringkat pertama. Aku juga pernah mendapatkan peringkat 3 dalam olimpiade sain tingkat SMA bidang study matematika Se Aceh besar.
Ayah dan ibuku menaruh harapan besar padaku. Bahkan sekali waktu Ayah pernah berkata:
"Kau harus sekolah yang tinggi nak.. Bila perlu Ayah akan kuliahkan kau keluar negri"
Tetiba gerimis hadir dipelupuk mata kala kuingat ayah berkata demikian.
Namun kini apa yang telah kulakukan?
Masih semester 6 saja Aku sudah mengajukan proposal padanya untuk menikah.
Bagaimana perasaan ayahku?
Aku menangis sekuat tenaga dalam hatiku.
------
Siang yang terik terasa semakin menyengat dengan beban berat didada.
Apakah Ayah sudah membaca suratku?
Bila sudah, mengapa belum menelfonku?
kulirik ponsel ber ulang-ulang.
Ia tak berdering juga.
Hingga malam tiba.
Seakan Ayah mendengar kegelisahan hati anaknya.
Panggilan masuk dari Ayah.
kujawab dengan gemetar.
"Assalamu'laikum ayah"
"waalaikum salam neuk"
"pat kah?" (kamu lagi dimana?)
"bak kost ayah" (dirumah kost ayah)
"mm...kaleuh ayah baca surat" (suratmu sdh ayah baca)
"(aku tdk menjawab apa-apa)"
"Ayah senang, engkau mengambil keputusan spt itu. Ayah bangga padamu! suruh datang Bang Fahrul kerumah kita secepatnya" ayah menutup telfon sebelum sempat aku mengucapkan terimakasih.
Aku tau, Ayah tidak mau aku mengetahuinya, jika ia menelfonku sambil menangis.
Ia yang mencintai anak gadisnya melebihi cinta pria manapun. Ia yang berusaha mati-matian untuk membahagiakan anak gadisnya. Ia yang lebih merasa terluka bila anak gadisnya mengeluarkan airmata. Ialah Ayah...
Aku rindu padamu...
------
Lega...
Tugasku untuk meyakinkan orangtua sudah selesai. Hanya tinggal Aku menunggu kabar darinya.
Besok, tepat 4 hari tenggang waktu yang ia janjikan.
Begitu selesai sholat subuh, Aku langsung menagihnya.
kukirimkan pesan pendek:
"Abang janji, hari ini akan memberikan keputusan"
"iya. abang tidak lupa" balasnya.
"Jadi bagaimana? Ayahku mengundanga Abang secepatnya kerumah."
"Besok malam insyaAllah abang kerumah"
"Orang tua abang setuju? kita menikah?"
"Besok malam akan abang kasih tau setiba dirumahmu"
----- 


Part 13
Selesai makan malam, Aku kembali kekamarku. Melanjutkan target tilawah yang belum selesai. Tetiba ibu masuk. Ia duduk di salah satu sudut tempat tidurku.
"Mar.. kemarilah" Sepertinya ibu ingin berbicara sangat serius. Aku menyimpan Mushaf Al-Quran yang kupegang. Kuletakkan diatas lemari lalu duduk didekat Ibu.
"Ibu sudah dengar semuanya dari Ayah. Bagaimana kau bisa suka padanya? Dulu yang ibu tau, kau begitu benci? Hingga hampir tidak mau lagi ke tenda gara-gara ada dia disana?" Ibu teringat apa yang pernah kuceritakan padaya dahulu.
"Hehheh.. Mar juga tidak tau Mak.."
"jangan-jangan kau memang kena sihir. di guna-guna" Timpal Ibu setengah bercanda.
Tanpa kami sadari rupanya Ayah mendengar percakapan kami. Beliau sudah berdiri didepan pintu kamarku.
"Kalo diguna-guna untuk kebaikan yaa gak masalah dooong.." Ayah berkata dengan nada menggodaku.
Tampaknya Ibu sedikit kesal. Lalu menimpali:
"Idron pih saboh. panena guna-guna yang lageenyan?"
"Man idroekeuh jameun nye hana lon guna-guna pane tatem?"
Hahahah... Seketika tawa kami pecah.
"Sebenarnya dari dulu, Ayah sudah simpati kepada fachrurrazi, Nak.. Tapi semuanya Ayah serahkan kepadamu. Sebab yang menjalaninya adalah Kamu. Jadi jam berapa ia akan datang?" Ayah mengarahkan pertanyaannya padaku.
"Katanya siap maghrib, Ayah"
"Jam 10 pun juga siap maghrib" Jawab ibu.
"Hehhe ia laki-laki yang tepat waktu mak.."
------
Kulirik jam dinding berulang-ulang sambil terus memantau keluar melalui temaram lampu disebalik jendela kamar.
"Ini sudah jam 8 malam. Mengapa ia lama sekali?"
batinku
Gerimis disenja tadi masih terasa lewat tetesan-tetesan air yang masih bergelantungan di ujung daun-daun pohon bunga kembang sepatu di depan jendela kamarku. Seakan menggenapi rasa didada.
Perlahan, Sayup-sayup Lampu sepeda motor terlihat semakin dekat. Itu dia. Aku mengintipnya hingga sampai ke pintu rumahku. Kupastikan ia tak bisa melihatku. Tegang dan gugup jelas terbaca dari wajahnya. Sepertinya Ibu dan Ayahku belum menyadari akan kehadirannya. Tak Apalah,Tak mau kusampaikan apa-apa pada mereka. Biarlah ia yang mengetok sendiri pintu rumahku.
Ayah mempersilahkan ia masuk.
Titik pengintaianku berpindah dari jendela menuju kelubang kunci pintu kamar. Disini kurang jelas terlihat. Tapi tidak apa-apa. Paling tidak bisa kulihat ranselnya yang diletakkan disebelah kanan. Yang penting suara percakapan mereka jelas terdengar. hehehe
"Sudah makan fachrur?" Ayah mencairkan suasana.
"Alhamdulillaah sudah, Pak. Maaf saya terlambat. Selesai ngajar tadi sore, Saya sholat maghrib dulu diBanda Aceh. Takutnya kalau langsung pulang tidak keburu.."
"ooh.. yaa... tidak apa-apa. ngajar dimana?"
"TPQ plus Baiturrahman, Pak."
Lalu ibu datang menyuguhkan air.
Ia mencium tangan ibu.
"Kak radhiah apa kabar fachrur?" Ibu bertanya padanya. Aku tau sebenarnya Ibu dan Ayahku hanya ingin membuatnya sedikit merasa santai. Aku terus mengintip. Walau yang tampak hanya ranselnya saja. hihihi
-----
"Marnizar sudah menceritakan semuanya pada saya" Ayahku memulai percakapan. "Jadi apa rencana kelian kedepan?"
"Saya sudah membicarakannya pada ayah, Namun Ayah tidak setuju bila saya harus menikah sekarang. Setidaknya kata ayah, Selesaikanlah dulu S1 mu. Saya kemari untuk meminta waktu kepada Marnizar agar mau menunggu saya. Paling tidak setahun kedepan" Ia menjelaskan dengan suara sedikit gemetar.
Ayah yang mendengar pernyataannya, memangilku untuk bergabung. Aku keluar kamar, mengambil tempat duduk dibelakangnya. Sementara Ayah duduk berhadapaan dengannya.
"Jadi bagaimana menurutmu, nak?" Ayah bertanya padaku.
"Kalo harus menunggu, Saya tidak bisa ayah"
""Boleh Ayah tau alasannya?"
"Setahun itu bukan waktu yang singkat, Ayah. Dalam waktu setahun itu akan banyak sekali hal yang akan terjadi. Kami kuliah dan tinggal berjauhan dengan keluarga masing-masing. Bisa saja setan berbisik untuk sesekali berjumpa lalu melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Sementara orang tua kami disini tidak tau apa-apa. Tau tau nanti, mereka yang menanggung malu. Saya tidak mau membuat ayah dan ibu malu" Jelasku menunduk. Hampir terisak.
"Saya juga sudah mencoba mambicarakan ini pada ibu saya. Paling tidak bila ibu setuju, bisa meyakinkan Ayah. Namun saya tidak kuasa, ketika melihat airmata mengalir dipipi ibu" Ia menjelaskan apa yang ia hadapi dirumahnya.
Aku sedih..
Ia melanjutkan:
"Saya tidak mau durhaka kepada orangtua. Namun disatu sisi, Saya juga tidak ingin jika Marnizar sampai dimiiki orang lain."
Hatiku mulai terenyuh..
Seakan hanyut dalam sebuah rasa yang tak tau harus kuterjemahkan bagaimana.
"Bagaimana menurutmu, Nak?"Ayah berbalik bertanya padaku.
Kuakui Ayahku sangat bijak. Aku salut padanya.
"Kalau menunggu saya tidak bisa ayah. Hatiku akan terus kotor oleh bisikan dan bayangan-bayangan cinta yang tidak halal. Bila memang orangtua bang fachrur tidak setuju. Sebaiknya tidak usah kita lanjutkan"
-------
Ia pamit..
Ayah mengantarnya sampai keteras rumah.
Lalu Aku mendengar ia meminta sesuatu.
"Izinkan saya berbicara dengan marnizar disini, Pak. sebentar saja"
Ayah menyanggupi.
Aku keluar, berdiri didepan pintu, sementara ia berjarak 2 meter dariku.
"Tolong kamu mengerti sedikit posisi abang. Abang bersungguh-sungguh ingin meminangmu. Tapi kenapa engkau berkata seperti itu? Kenapa engkau tidak mau menunggu? Tidak lama! Setahun saja. hanya setahun!"
"Dari awal sudahku bilang, Bang.. kalo menunggu aku tidak bisa. Bila memang Abang belum siap,tidak usah dilanjutkan."
"Kenapa kamu egois sekali?" ia terlihat sedikit emosi. Maklum lah ya.. masih darah muda kata bang roma. Saat itu usianya baru menginjak 24tahun.
"Mungkin abang melihatku egois, tetapi ini untuk kebaikan kita bersama.."
Terlihat ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menghembuskan nafas yang panjang.
"Kalu begitu, tunggu Abang selama 6 bulan saja."
"Apa yang akan Abang lakukan dalam kurun waktu 6 bulan tersebut?"
"Abang akan mengumpulan mahar untuk meminangmu. Abang yakin, bila mahar sudah berhasil Abang kumpulkan akan lebih mudah untuk meyakinkan orangtua nanti."
"Aku tidak meminta mahar yang banyak-banyak bang... Aku ingat pesan Rasul kita, wanita yang baik adaah yang paling sedikit maharnya dan mudah menikahinya"
"Abang tau. Jumlah mahar itu juga suatu kehormatan bagi keluargamu. Juga harga diri abang sebagai laki-laki. paling tidak, Mahar yang akan abang berikan padamu nanti, menyamai mahar ibumu dulu. Begitu yang Abang paham. Agama kita megajarkan demikian."
Aku semakin kagum padanya.
Kekaguman yang berlipat ganda.
Lelaki yang kuanggap biasa saja ternyata sangat istimewa.
Melebihi kekagumanku pada tokoh pangeran manapun yang ditokohkan oleh animasi disney. Hehhe...
ia Sempurnaaa...
Tidak salah jika hatiku begitu...... mencintainya...
-------
Namun sebagai wanita, kita memang harus tegas.
Bila siap, jemput! Bila tidak siap, persilahkan dengan yang lain. Andai sempat kita berkata:
"Aku akan menuggu abang sampai kapanpun"
Maka jangan harap ia akan berusaha keras untuk bisa menjemput kita. Yang ada malah, Ia akan terus mengulur waktu sampai kita bosan menunggu lalu setan menyelipkan keraguan dihati hinngga sebuah pernikahan yang dibayangkan indah, tidak pernah terjadi. Itu pasti!
Makanya walaupun hatiku saat itu sudah begitu sayang dan kasihan padanya, pendirianku tidak berubah. Aku tidak berjanji menunggu.
Katakan pada calon adik-adik:
Bila siap, datanglah menjemput.
Bila belum siap, maaf.. Aku duluan!
Begitu jauh lebih baik! Lalu nilai sendiri kesungguhannya!
------
Kudengar kabar, Ia menjadi giat mencari nafkah.
Ia mulai menjadi asisten dosen dikampusnya. Ia cerdas. kuakui itu. (setelah menikah sempat kulihat KHS nya, IPK yang terteta disana bertuliskan angka 3,8. sementara aku? hahah tak usah kubilang)
Ia juga mengajar privat baca Qur'an selain juga mengajar di TPQ baiturrahman. Ia menjadi rajin sekali. Tubuhnya semakin kurus. Bagaimana aku tau? Suatu hari ia memintaku menunggunya dihalte pinggir jalan. Ia hendak menyerahkan sesuatu.
Aku datang kehalte yang ia janjikan.
Ia melepas helmnya seketika tiba didepanku. Megeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya. Menyerahkan padaku:
"ini.. kau simpan"
"Apa ini? " kuperhatikan ia berbentuk sebuah dompet. Dompet perhiasan emas.
"ini untuk maharmu nanti, baru 3 manyam yang telah berhasil Abang kumpulkan. Sebagian besar uangnya dari tabungan. Abang akan terus mengumpulkannya sembari tidak berhenti meyakinkan orang tua agar mengizinkan kita menikah secepatnya"
"lalu mangapa abang menyimpannya padaku?"
"Agar engkau yakin, bahwa abang tidak main-main"
Hatiku bergemuruh.
Terharu sembilu seraya menyembunyikan airmata yang kutahan agar tidak jatuh. Ia sungguh-sungguh mencintaiku.. 




Part 14 (selesai)
"Aku tidak bisa menyimpannya,Bang.. ini bukan milikku" Aku menyerahkan kembali dompet perhiasan yang ia berikan.
"InsyaAllah secepatnya ia akan menjadi milikmu, Abang mohon simpanlah..! Anggap saja kau membantu Abang"
Ia seorang laki-laki yang sangat tekun. Bersungguh-sungguh akan sesuatu yang telah ia azzamkan. Tiap sebulan atau selang dua bulan ia menyerahkan tabungan mahar berupa emas untuk ku simpan. Walau kadangkala hanya mampu ia beli setengah mayam. Bahkan uang beasiswa yang ia terima dikampusnya, ia alihkan untuk membeli emas demi bisa meminangku.
Kuakui perjuangannya sangat berat.
Seorang mahasiswa yang tinggal jauh dari orangtua, yang hidup dibawah garis sejahtera, makan seadanya bahkan sering berpuasa, namun bertekad sekuat tenaga agar mampu mengumpulkan mahar demi seorang gadis sepertiku yang tidak ada apa-apanya. sekali waktu sempat timbul sebuah tanya didalam hati, Darimana ia mendapatkan semua ini? Namun sebelum Aku sempat bertanya padanya, ia langsung menjelaskan: "ini uang halal. engkau tidak usah ragu. Bukankah Allah selalu menyertai dalam setiap niat baik?"
Aku terharu..
Akupun tak henti berdoa siang dan malam agar kiranya Allah memudahkan jalan kami untuk menikah segera. Sebab tidak ada penawar yang lebih baik bagi dua insan yang saling jatuh cinta selain pernikahan.
Enam bulan yang ia janjikan telah tiba.
Aku kembali menagihnya.
Namun alasan izin orangtua belum juga ada.
Aku cukup lelah!
Pernah terlintas dipikirannya untuk menikah sirri denganku. Sekedar sah dimata Agama saja. Toh Laki-laki kan sebenarnya memang tidak perlu izin orangtua?
Namun Aku tidak mau.
Menurutku, Segala niat baik, harus di awali dengan cara yang baik agar hasilnya juga baik. Kita menikah bukan hanya menyatukan dua hati yang saling mencintai, namun juga menyatukan dua keluarga besar dalam rasa bahagia.
-----
Tidak ada yang berubah pada diriku.
Kuliah dan bercanda ria bersama teman seperti biasa. Mereka tidak kubiarkan mengetahui apa yang kurasa. Biarlah Mereka menyangka bahwa diriku baik-baik saja.
Dalam sedih dan terpuruk, Allah selalu punya cara untuk mengingatkan, Bahwa kita tidak sendirian. Dia ada dalam setiap langkah. Sepanjang jalan.
-----
Selesai mengeprint sejumlah data penting dari flashdisk disebuah rental komputer dekat kampus, Aku naik labi-labi (angkutan umum), bergegas pulang keseulimum, Karena besok hari minggu, Aku ingin berkumpul dengan keluargaku. Biasanya alunan nyanyian yang terdengar dalam labi-labi jurusan banda Aceh selimum, kalau bukan lagu dangdut milik elvi sukaisih, Lagu nostalgianya Nike Ardila. Namun sore itu berbeda. Yang terdengar ditelingaku adalah tausiyah seorang ustadz tentang sebuah ayat Al-Quran:
"Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Maka jika kamu sudah sholat namun pertolongan Allah belum sampai, maka periksalagi sholatmu. Mungkin wudhu'nya tidak sempurna. Atau bacaannya tidak benar"
Aku merasa nasehat tersebut tertuju padaku semata. Iya.. mungkin iyaaa... ada yang salah dengan sholatku selama ini.
-----
Aku tidak bisa tidur.
Bagaimana jika orangtuanya bersikeras tidak menyetujui pernikahan ini? Untuk apa ia telah menyimpan mahar sebanyak ini padaku? Bagaimana jika terjadi sesuatu padaku atau padanya?
"Kau belum tidur , Mar?" Ibu menyadari lampu kamarku masih menyala.
"Aku tidak bisa tidur,mak"
"Kau tidurlah... bila tali sudah sedemikian menegang, berarti ia akan segera putus. Begitupun dengan mentari, ia akan terbit bila telah melewati pekatnya malam"
Seorang ibu paham sekali apapun yang kita rasakan sekalipun kita tidak pernah menjelaskan apa-apa.
-----
Senin pagi adalah waktu tersibuk didunia.
Begitupun denganku dan adik-adikku. Aku tergesa betangkat kekampus, Mereka tergesa berangkat kesekolah.
Ayah mendekati saat Aku sedang memakai sepatu,
"Katanya nanti malam, Ayah bang fahrur kerunah kita.." Aku terkejut. Mungkinkah? Atau kenapa?
"Beliau kerumah kita untuk meminangmu..." Ayah melanjutkan.
Aku legaaaa...
Rasanya ingin bersujud syukur segera..
-----
Pernikahan selalu dibayangkan indah oleh setiap calon pengantin. Mulai dari undangan yang di desain apik, calon pengantin wanita yang dipakaikan inai semalam sebelum akad, Baju pengantin yang mewah, jamuan makanan yang enak, pesta yang meriah diiringi nasyid yang romantis, kehadiran handai taulan dan kerabat yang memberikan ucapan selamat, pelaminan yang megah.. Sungguh indah sekali..
Besok hari jum'at jam 10 pagi adalah jadwal pernikahanku dikantor KUA kecamatan Seulimum. Sementara sore ini Aku masih berkutat mengejar nilai ulangan final dikampus. Baru akan selesai jam 6 sore. Calon pengantin seperti apa Aku ini?
Hanya teman-teman dekat saja yang kuberi tau bahwa Aku akan menikah besok. Tidak ada undangan khusus. Memang tidak ada undangan yang dicetak. Selesai ujian jam 6 sore aku segera berlari menuju pangkalan labi-labi.
Dua orang teman akrabku mengikuti.
"Kau yakin pulang sendiri, Mar?" tanya Santi khawatir
"insyAllah tidak apa-apa, kalian tidak usah ikut. besok pagi jam 8 mesti ikut kelas pronoun kan?"
"Kami ga akan membiarkan kau pulang sendirian, Mar.. kau ini calon pengantin! Harusnya malah dipingit. Besok mau nikah, sementara hari ini masih keluyuran. Hampir maghrib pula. pokoknya Kami berdua temenin kau pulang" Sambung Tia begitu yakin.
Tiba dirumah tidak ada yang istimewa.
Tidak ada kesibukan apa-apa. Pemandangan yang terlihat seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa seorang anak gadis akan melepas masa lajangnya esok hari. Bahkan Tia, temanku berulang ulang bertanya:
"Kau yakin akan menikah besok, Mar?"
-----
Ini hari pernikahanku.
Aku masih belum percaya, dalam hitungan beberapa jam kedepan, Aku akan menjadi seorang istri. Rasanya campur aduk. Senang, bersyukur, juga sedikit khawatir. Entah apa yang kukhawatirkan.
Aku mengenakan pakaian terbaik yang Aku punya. Bukan pakaian pengantin khusus seperti pasangan-pasangan lain. Akupun tidak tau, apakah bajuku ini nanti akan sama warnanya dengan baju yang dipakai mempelai pria? Kami tidak pernah berkompromi saat membelinya. Asalkan sudah ada baju bagus untuk hari pernikahan, selesai.
"Sudah siap Mar?" Tia mengagetkanku saat Aku sedang mandangi diriku dicermin.
"Sudah"
"Begitu doang?"
"habis apa lagi?" tanya ku seakan tidak ada yang kurang.
"Sini.." Ia menarik tanganku keluar dari kamar. Membuka tas yang biasa ia gunakan untuk kuliah. Mengeluarkan peralatan make up seadanya.
"pengantin itu harus berhias.." katanya sembari membuka sebuah bedak padat, hendak di pakaikan padaku.
"jangan ah..! Aku malu. Aku gak pernah behias"
"sedikit aja... pucat begitu... sini.. biar aku yang pakein"
"janji jangan norak ya...!"
"iyaaa... haii... pengantin kok begitu? gak ada miripnya sama sekali"
-------
Ayah dan Ibu sudah bersiap dalam mobil untuk mengantarku ke KUA kecamatan. Mobil keluarga dengan tampilan apa adanya. Tidak berhias pita, tidak juga bunga. Ia tampil apa adanya, seakan tidak ada seorang calon pengantin didalamnya.
Ayah dan ibu duduk di jok paling depan. Sementara Aku dan dua orang temanku memgambil posisi dijok tengah. Jok belakang diisi oleh adik-adikku. Entah apa yang mereka pikirkan.
Adakah mereka sedih mengetahui bahwa sebentar lagi, kakaknya yang imut ini akan menjadi milik orang lain? Atau kah senang, sebab mereka akan memilki Abang ipar? heheheh...
Tidak banyak yang diucapkan Ayah selama dalam perjalanan. Hanya satu kalimat yang Terus ku ingat sampai sekarang,
"Kau sudah dewasa, Nak.. Pikiranmu lebih dewasa dari usiamu"
---
Ternyata rombongan keluarganya lebih dulu tiba di KUA. Ia tampil sangat elegan. Mengenakan celana Hitam, Baju koko putih gading, tak ketinggalan peci hitam yang menutupi sebagian rambut dikepalanya. Ia tersenyum saat Aku tiba. Sementara Aku lebih memilih berdamai dengan rasa yang ada.
Tidak banyak undangan yang hadir. Hanya beberapa keluarga dekat dan beberapa orang teman relawan yang dulunya ditenda. Mereka rela datang walau ketika sampai disana, jamuan yang mereka terima hanyalah sebungkus nasi ketan dan segelas teh manis. Hanya foto dibwah ini yang menjadi saksi betapa sederhananya pernikahan kami. Foto yang diambil oleh adikku sendiri dengan sebuah kamera digital berkualitas menengah.
Namun Aku bahagia.
Di saat seperti itu jelas terasa bahwa kebahagiaan tidak melulu tentang kemewahan dan materi berlimpah.
------
Usai ijab Qabul Kami kembali kerumah masing-masing. Memang dari awal kami sudah membuat kesepakatan. Tidak ada pesta pernikahan yang wah, tidak ada bulan madu yang romantis, tidak ada. Semuanya seperti biasa saja Tidak berubah!. Kami tetap tinggal di rumah masing-masing. Hanya status yang kami sandang saja yang sudah berbeda. Kami sudah menjadi suami istri.
Aku menikah dengan mahar yang lebih rendah dari ibuku dulu, bukan ia tidak mampu menyanggupi, hanya saja Aku sudah menghentikannya saat kulihat wajah dan tubuhnya sudah sangat lelah dalam mengumpulkannnya. Ia mengumpulkannya sendirian. Dengan hasil keringatnya sendiri. Sungguh sejatinya laki-laki.
"Abang minta maaf... Belum mampu menyamai mahar ibumu dulu.."
"tidak apa-apa bang.. Aku lebih senang menikah dengan hitungan mahar yang ganjil. ini sudah cukup! Tak usah Abang kumpulkan lagi"
Aku membohonginya.
Mungkin saat membaca tulisan ini baru ia tau, bahwa saat itu, Aku berbohong. Maafkan Aku, Bang...
-------
Kami pulang kampung khusus untuk menikah saja. Dan sore ini kami harus kembali ke banda Aceh. Besok pagi Aku dan dirinya harus kuliah kembali seperti biasa. Namun yang membuatnya berbeda adalah:
"Assalamu'alaikum, Abang..." Aku menjawab panggilan masuk darinya.
"waalaikum salam sayang... sebentar lagi abang jemput ya... kita balik kekampus sama-sama"
uhuk uhuk... sudah ada yang memanggilku dengan sebutan 'sayang' πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…-------
Sore itu menjadi sore terindah dalam hidupku.
Seakan setiap pepohonan dipinggiran jalan yang kami lalui mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Aku bahagia sekali. Sebuah kebahagiaan yang tak tergambar dengan kata apapun. Aku sudah memilki suami. Dan Ia disini. Di atas sepeda motor yang kunaiki.
"kita berhenti di sini dulu sayang ya..." Ia memberhentikan sepeda motor disebuah warung bakso dikawasan indrapuri.
"kita makan bakso dulu.. mau ya.. kita pacaran sebentar.. heheh"
"iya deh bang..."
Kami mengambil tempat duduk agak dipojok. Ia duduk dibangku yang berhadapan denganku.
Ia terus memandangiku. Hingga membuatku gugup dan salah tingkah. Sesekali ku betulkan posisi jilbabku. Padahal untuk menutupi kegugupan ku. hahahaa
"ape tengok-tengok?" tanyaku saat sudah tidak tahan dipandangi terus.
Ia berpindah pada kursi yang berada disampingku. Lalu membisikan sesuatu ketelingaku:
"Kamu cantik"
Aah.. semakin tak karuan lah perasaanku. Tetapi begitulah perempuan ya..? selalu berusaha menutupi apa yang dirasa.
"Aku tau, kalo gak cantik mana Abang mau?"
"hahahah... selain cantik, kamu juga menggemaskan"
Aduh perasaanku samakin tak karuan.
untung baksonya segera datang.
"Makan dulu... sebentar lagi kita mesti balik. jangan sampai dibanda nanti sudah maghrib" tegasnya
-------
Ia membayar tagihan baksonya.
Udara senja semakin dingin.
Seiring mentari yang hendak kembali keperaduan.
"kamu bawa jaket gak?" mungkin ia juga merasa hawanya cukup dingin.
"ngga..."
Ia melepas jaket yang ia kenakan. Memberikan padaku. Dulu jaket ini hanya kupandangi dari jauh. Hampir tiap hari terbayang akan tulisan dipundaknya. Namun saat ini ia memintaku untuk mengenakannya. Tulisan tersebut masih sama kerennya: QISHLAH 04.
"Sini Abang pakaikan. Biar kaya di film-film"
"gak usah lebay, Bang.. Aku bisa pake sendiri. memangnya Aku bayi?"
"hahaha ini yang Abang suka darimu. Kamu tidak manja. Ayo naik (sepeda motor), kita berangkat"
Ia memastikan helm ku terpasang baik.
"pegangan dek..."
"ngga ah..! malu"
"meluk juga boleh.. hihihi"
"iiiihhh.. sori yee..."
"Yasudah kalo begitu jaga keseimbangan saja. Sebab jika jatuh, abang tidak tau, dimana lagi harus mencari wanita spertimu"
"uhhuuuk uhhhuuuuk! bek le that haba hai bang.. ntreuk maghreb bak jalan"
"hahhahahaa..."
-------
Selesai
Epilog
Sepuluh tahun sudah kami bersama.
Namun rasa cinta ini tak pernah berkurang. Bahkan bertambah setiap harinya. Kami menikah dari bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa, Tetapi sekarang Allah memberi kami segalanya. Hidup terasa semakin sempurna dengan kehadiran dua buah hati pengikat cinta, penyejuk mata.
Tanggal penikahan selalu manjadi hari istimewa bagi kami setiap tahunnya. Sebab perjuanngan yang kami tempuh sungguh tidak mudah.
Semoga perasaan sakinah mawaddah warahmah ini bertahan sepanjang usia hingga menjadi sarana kesyurga..
Trimakasih Abang, Engkau telah memilihku diantara banyak wanita lain yang menginginkanmu.. 


Foto pernikahan Kak Marnizar dengan Bang Fahrurrazi

No comments:

Post a Comment