Recent Posts

Contributors

Tgk. H. Ismail (Ayah Caleue), pewaris Nabi dan teladan yang sebenarnya

Thursday, 28 September 2017
Tgk.H.Ismail (Ayah Caleue) - dok.pribadi


Lima tahun lalu merupakan saat paling berharga dalam kehidupan saya. Dari Sekolah Menengah Pertama, saya telah bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren di Panton Labu. Hal tersebut karena abang kandung dari bapak saya merupakan alumni pesantren tersebut. Abu Cek Bukhari, begitu beliau disebut. Namun, hal itu tidak pernah terjadi. Setelah masuk Sekolah Menengah Atas, saya memang sudah aktif belajar di pesantren Mishbahul Huda. Sebuah pesantren, kalau boleh dikatakan hanya sebuah balai pengajian yang ada  di kampung. Kebetulan pimpinan Mishbahul Huda adalah saudara kerabat dari ibu, jadi saya masih merasa berada di rumah sendiri saat disana. Mungkin Allah punya rencana lain untuk saya. Saat lulus dari SMA, saya memohon izin kepada pimpinan pesantren Mishbahul Huda untuk melanjutkan pendidikan ke Pesantren Panton Labu yang saat itu masih dipimpin oleh Alm Tgk.H. Ibrahim Bardan atau biasa dipanggil Abu Panton, seorang ulama kharismatik Aceh yang sangat ramah dan rendah hati. Pimpinan Mishbahul Huda meminta saya untuk menunda dulu sementara rencana melanjutkan pendidikan. Beliau meminta saya sementara untuk membantu beliau hingga pembangunan mushalla pesantren Mishbahul Huda selesai. Nyatanya sampai sekarang saya masih di pesantren Mishbahul Huda. Cita-cita melanjutkan pendidikan ke Panton Labu hanya tinggal kenangan. Dalam hari-hari tersebut, saya hanya bisa merenung ketika melihat kawan-kawan berangkat membawa perlengkapan seperti lemari dan tilam. Peristiwa yang paling saya ingat hingga sekarang adalah saya bermimpi hingga tiga malam berjumpa dengan Abu Panton Labu dan Tgk H.Ismail (Ayah Caleue) sekaligus. Dalam mimpi tersebut, Abu Panton seolah berbicara dengan Ayah Caleue, kemudian saya ikut naik kedalam mobil rombongan Ayah Caleue. Bulan Ramadhan lima tahun yang lalu, setelah menjalani hari-hari di pesantren Mishbahul Huda, saya mendapat informasi bahwa dalam libur bulan puasa di Dayah Tungkop (Dayah yang dipimpin oleh Ayah Caleue) ada pengajian kitab Matamimah, kitab ilmu nahwu. Pengajian akan di asuh langsung oleh Ayah Caleue. Beliau mengkhususkan pengajian ini bagi santri yang tidak pulang ke kampung halaman. Namun siapa yang ingin menghadiri, beliau tidak melarangnya. Tgk H. Ismail (Ayah Caleue) adalah seorang murid dari Abon Abdul Aziz Samalanga, pendiri Pesantren MUDI Mesra Samalanga yang megah itu. Menurut cerita, Ayah Caleue adalah seorang murid yang sangat pintar. Penguasaan beliau akan ilmu itu sangat mumpuni. Sehingga bagi siapa yang menuntut ilmu ke MUDI Mesra hingga kini, tidak ada yang tidak mengenal sosok Ayah Caleue. Beliau adalah salah satu murid kesayangan Abon Abdul Aziz. Ayah adalah sosok yang sangat mencintai ilmu. Menurut khabar, ketika beliau mengajar dulu, saking semangatnya sampai beliau tidak sadar telah mengangkat kain sarung ke atas lututnya, hingga diingatkan oleh murid beliau, dan beliau tersadar. Benar saja, jadwal belajar kami kepada beliau di Pesantren BUDI Tungkop, Caleue adalah pukul 7 pagi. Suatu hari beliau baru pulang dari Bakongan, Aceh Selatan untuk menghadiri walimah. Perjalanan yang sangat melelahkan bagi beliau yang telah berumur. Beliau tiba di Dayah pukul 4 pagi dan baru tidur setelah shalat subuh. Namun ketika mendengar suara hadirin diluar yang menghadiri pengajian, beliau langsung bangun dan memulai pengajian. Kapan berakhir jadwal mengajar beliau? hingga pukul 12 siang. Bagaimana semangat beliau dalam mengajar mungkin belum bisa ditiru oleh siapapun. 

Ayah Caleue bersama Tgk Ishak - dok.pribadi


Tgk Ishak pernah bercerita kepada saya, beliau bersama Ayah Caleue sedang mengerjakan sesuatu saat pagi hari. Biasanya, Umi (istri Ayah Caleue) akan membawakan makanan berupa telur setengah matang dan air teh. Makanan itu tidak beliau makan sendirian. Ayah hanya menghabiskan seperdua dan setengahnya lagi diserahkan untuk dimakan Tgk Ishak. Dan tidak makan apa-apa lagi hingga siang. Seorang ulama yang sangat wara' . Beliau mengamalkan sepenuhnya ilmu yang beliau punya. Apakah kita akan sulit untuk berjumpa beliau atau apakah kita akan hanya menjadi seorang yang tidak diperhatikan oleh orang yang tinggi derajatnya?. Bulan Ramadhan lima tahun lalu itu,  saya akhirnya memberanikan diri untuk pergi belajar ke dayah Tungkop. Butuh keberanian yang tidak sedikit untuk pergi. Saat pengajian berakhir, dan semua menyalami beliau. Tiba giliran saya, beliau yang pertama melempar senyum dan bertanya, "ngen soe jak?" (pergi dengan siapa) , "sidroe Ayah" (sendiri, Ayah). "ooh get-get, Allahu Akbar" ( ooh bagus, Allahu Akbar). Suatu malam, saya tidak menghadiri pengajian karena membantu mengurus zakat fitrah di Mishbahhul Huda. Ayah Caleue menghubungi pimpinan kami melalui handphone, menanyakan keadaan saya dan menyuruh untuk pergi menghadiri pengajian. Bagaimana perasaan saya saat itu? sungguh Ayah Caleue adalah seorang ulama yang benar-benar alim lagi tawadhu'. Tidak sekalipun senyum dan canda luput dari wajah beliau. Namun kharisma sebagai seorang ulama tidak runtuh dari jiwa Ayah.

Ayah menerima tamu asal Malaysia di rumah - dok. Tgk Muhammad (anak Ayah)


Suatu Saat hari raya Idul Fitri, kami berkunjung ke Lhok Nibong, ke Dayah Darul Huda. Kami pergi berziarah ke kediaman Tgk H.M Daud Ahmad (Abu Lhok Nibong). Disana beliau bercerita bahwa Ayah Caleue adalah seorang ulama yang sangat alim. Beliau mampu memahami kitab apa saja yang beliau baca. Ayah Caleue adalah benar-benar pewaris Nabi, beliau tidak membedakan siapa saja yang ingin menuntut ilmu kepadanya. Baik itu orang tua, anak-anak, remaja. Beliau tidak malu-malu untuk bertanya perihal yang tidak beliau ketahui kepada orang lain. Beliau tidak pernah merenndahkan orang lain. Ayah adalah seorang pendengar yang baik, beliau tidak akan membantah seseorang yang sedang berbicara dengannya, dengan bantahan telak. Beliau selalu membantah dengan sopan menggunakan bahasa kiasan hingga lawan bicaranya tidak tersinggung. Beliau juga tidak segan-segan bercanda dengan lawan bicaranya. Ayah Caleue benar-benar ayah yang dibutuhkan masyarakat Pidie. Ayah yang benar-benar dibutuhkan masyarakat Aceh. Ayah adalah teladan. Yang paling penting saya ingin sampaikan, Ayah tidak pernah memamerkan keahlian dan kepintaran beliau. Beliau selalu memerhatikan keadaan seorang penanya, dan menjawab sesuai kebutuhan si penanya. Namun jika ditelusuri, jikapun kita menuntut ilmu kepada beliau, durasi sepuluh tahun hanya habis kita rengguk untuk muqaddimah ilmu. Beruntung, saya pernah masuk ke kamar pribadi beliau di dayah. Saya melihat kitab terbuka dan berserakan di atas tempat tidur beliau. Tipikal penuntut ilmu yang haus. Beliau sangat menghormati ilmu, tidak akan mengajar sebelum beliau mempelajari bahasannya sendiri di kamar. 

No comments:

Post a Comment