Recent Posts

Contributors

In Memoriam, membawa Bapak berobat ke Malaysia (1)

Wednesday, 30 August 2017




Apa yang bisa dilakukan ketika rindu, kepada orang yang yang hidup di alam yang telah berbeda dengan kita? Berdoa, beliau akan terus hidup dalam ingatan. Tapi agar ingatan itu hidup dengan kuat dalam dzihni, saya kira menulis akan menghantarkan kita kepada hal tersebut. Bapak, beliau adalah seseorang yang tidak suka untuk pergi berlibur. Hal yang wajar untuk orang tua berumur 40-an keatas yang cita-cita utama mereka tiap hari tidak muluk-muluk, hanya ingin memastikan anak-anak dan istri mereka bisa makan enak dan seluruh kebutuhan rumah tangga bisa terpenuhi. Bapak sudah mengidap diabetes sejak saya masih menuntut ilmu di Sekolah Dasar. Beliau juga punya masalah dengan saluran kencing, batu ginjal. Saat itu beliau dioperasi di Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Pemulihannya sangat lama, karena luka operasinya susah kering. Bapak, dengan kesabaran yang luar biasa, akhirnya bisa melakukan aktifitasnya kembali. Beliau tidak pernah berhenti bekerja. Sejak dari muda, bapak telah menjadi supir untuk mobil pembawa es batu dari sebuah pabrik, supir untuk mengangkut pasir, supir bus lintas Aceh - Sumatera, supir angkutan L-300 lintas Aceh - Kutacane, lintas Sigli - Banda Aceh, juga pernah menjadi supir labi-labi untuk lintas Sigli-Garot. Beliau berhenti bekerja hanya ketika mobilnya butuh perbaikan, atau dirinya butuh istirahat.


Sehari sebelum hari raya Idul Adha 1435 H, hari dimana bapak harus berhenti bekerja selamanya hingga beliau pergi untuk selamanya. Beliau pulang pukul 17.00 WIB seperti biasa. Tapi kali ini langsung menuju ke kamar, merebahkan diri ke atas tempat tidur. Sebenarnya, mengingat umur dan fisik beliau, kami sangat ingin beliau untuk berhenti bekerja menjadi supir L-300, beliau selalu mengilah.Memang, pusat penghasilan dalam keluarga kami, adalah Bapak. Kami hampir tidak peduli dengan kebutuhan keluarga. Saya hanya memperoleh penghasilan yang tidak seberapa dari mengajar mengaji. Kakak, mengajar di sekolah sebagai guru bahasa Inggris. Penghasilan kami hanya mencukupi untuk beli sabun mandi dan keperluan pribadi lainnya.

foto : Amri Azooka


Bapak muntah-muntah sepanjang hari itu, kami belum mengetahui penyakit apa yang beliau idap. Saat itu libur lebaran, jadi dokter spesialis di Rumah Sakit tidak ada. Baru setelah hari raya ke-tiga, kami membawanya ke RS Mufid Sigli. Diagnosa dokter, ginjal beliau hanya berfungsi 10 % dari 100 %. Sebab itu beliau muntah, ginjalnya tidak mampu lagi untuk mengolah racun. Mungkin ini disebabkan oleh penyakit diabetes beliau. Beliau rutin mengkonsumsi obat Glibenclamide. Jika sakit, bapak tidak pernah mengeluh. Beliau tidur di dalam kamar, hingga sembuh. Tak pernah terdengar tangisan atau keluhan. Setelah diagnosa tersebut, Bapak dirawat inap di RS Mufid selama seminggu lebih. Hari pertama beliau muntah-muntah tanpa henti. Kami merasa sangat khawatir. Bapak lelah, dan tidak bisa tidur malam dengan nyenyak. Hal ini terjadi karena ginjalnya tidak berfungsi dengan sempurna lagi. Tapi setelah dua hari, berkat Allah yang memberikan obat yang cocok melalui dokter Fahmi, muntah-muntah beliau berangsur sembuh. Bapak bisa kembali tidur nyenyak dan tersenyum. 

Baca juga puisi saya untuk mengenang Bapak

Bapak akhirnya bisa pulang kerumah, dengan menjalani cek kesehatan rutin setiap Rabu ke praktek dr. Fahmi di RS Citra Husada Sigli. Kesehatan Bapak semakin membaik, tapi tidak seperti dulu lagi. Beliau tidak sanggup berjalan jauh, karena kelelahan. Hari-harinya dihabiskan dengan duduk di kursi di teras rumah kami. Dibalik keceriaan beliau, ada terselip kesedihan juga, karena tidak melakukan aktifitas seperti biasanya. Biasanya Bapak sudah berangkat ke Banda Aceh itu pukul 8 pagi kemudian pulang pukul 5 sore. Bapak juga beberapa kali harus tranfusi darah. Beliau berkali-kali kekurangan Hemoglobin dalam darah. Bapak mendekati gagal ginjal. 

Dalam masa pengobatan di Sigli dan pernah sekali ke Banda Aceh, terbesit ide dari kami untuk membawa beliau ke Malaysia. Kabar dari kerabat, mengabarkan bahwa penyakit yang diidap bapak bisa disembuhkan disana. Berbekal keyakinan kesembuhan ada pada Allah, tugas kita adalah berusaha, kami menawarkan hal itu pada bapak, beliau menolak. Bapak memang orang yang skeptis, sangat skeptis bahkan. Beliau tidak pernah ingin pergi walaupun untuk sekedar berliburan. Jika kakak punya undangan untuk menghadiri sebuah acara di Kuala Lumpur, kami berdua dengan mamak ikut. Bapak tidak ingin ikut, walaupun sudah dipaksa. Kali ini, setelah beberapa kali diajak, dengan alasan berobat akhirnya beliau mengalah untuk ikut. Mulailah kami menyusun rencana. dari mulai memilih menginap di kos bang Abdul Mutalib, saudara jauh mamak, juga orang sekampung. Kebetulan kami (saya dan mamak) pernah menginap disana sebelumnya. Kos bang Taleb, begitu panggilannya, terletak di lantai 4 sebuah bangunan susun di Chowkit. Tepatnya di Lorong Tiong Nam 5, beberapa blok dari jalan TAR. Banyak dari warga Garot yang merekomendasi kami untuk menginap disini. Karena agak aman dari kehadiran siben (sebutan orang Aceh untuk Polisi Malaysia). Kami memang tidak melanggar aturan. Kami punya visa kunjungan hingga 30 hari ke Malaysia. Tapi mungkin mereka ingin kami nyaman berada di Tiong Nam 5. Setelah paspor bapak jadi dalam sehari, karena pilih yang kilat, kami mulai mencari tiket pesawat yang sedikit murah, dan akhirnya bang Ajir (suami kak Maria, sekaligus abang ipar saya) mendapatkan tiket dengan harga 700 ribu PP. 

Perjalanan menuju Kuala Lumpur


Sepuluh Februari, kami pun berangkat. Sebelumnya kami telah mengatur jadwal untuk pergi ke Rumah Sakit  KPJ Sentosa di Chow Kit. Kami meminta bang Anwar,  juga saudara sekampung yang telah lama disana untuk menemani kami ke KPJ Sentosa. Bapak yang saat di kampung tidak sanggup berjalan jauh karena kelelahan, dapat menaklukkan KLIA 2. Dari tempat landing pesawat hingga ke tempat imigrasi, beliau berjalan kaki dan tidak tampak kelelahn di wajahnya. Saya mengira, ini mungkin efek dari kerja otak beliau yang menemukan sesuatu yang baru. Benar saja, itu kali pertama beliau naik pesawat. Kapal laut sudah pernah, saat ke Jakarta pada dekade 90-an bersama mamak. Ditambah dengan melihat suasana bandar udara KLIA 2 yang mewah bagi beliau yang biasanya hanya melihat terminal bus dan L 300. Jika ada yang billang traveling adalah obat untuk menyebuhkan penyakit, saya bisa percaya. Karena Mamak saat ke Malaysia pertama kali, membawa obat stroke seharga 450 ribu, tidak sebutirpun terminum. Saya akan lanjutkan cerita sesampai di KPJ Sentosa di tulisan berikutnya.

8 comments:

  1. Mirip kali bg Akbar ya ayahnya.

    ReplyDelete
  2. SEmoga Almarhum mendapat tempat yang terbaik disisiNya.. Ditunggu kisah selanjutnya ya^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin..segera setelah habis segelas kopi ..wkwk

      Delete
  3. Iya bener, mirip loh Akbar dengan ayah. Semoga Ayahanda mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Swt. Amin :)

    Omnduut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin..semoga ketegaran beliau juga bisa mirip dengan Akbar hehe..makasih Omdut..kapan ke Aceh lagi?

      Delete
  4. hehe..belajar nulis kayak di hikayatbanda.com

    ReplyDelete