Recent Posts

Contributors

Supervisor untuk film dokumenter "Rumah Online" #BagianSatu

Monday, 31 July 2017



     Jumat pukul sepuluh, saya berangkat dari Sigli menuju Banda Aceh menggunakan sepeda motor. Tujuan utamanya adalah bertemu dengan Daniel Rudi Haryanto, pembuat film dokumenter yang saya kenal dari facebook. Saya membaca tulisan-tulisan tentang pengalaman beliau menjadi sineas dokumenter di blog, kebetulan beliau menjadi pemateri di Aceh Documentary Competition 2017 ini. Tujuan kedua adalah ingin melihat dan mengikuti proses in house training para finalis Aceh Documentary Competition 2017. Setelah menjadi finalis Aceh Documentary pada tahun 2014, saya aktif dihampir semua kegiatan Aceh Documentary. Baik itu nonton film dan diskusi,  yang diberi nama Aceh Documentary Forum, atau apresiasi, Aceh Film Festival, dan tentu saja produksi, di program Aceh Documentary Competition. Tujuan ketiga tentu saja berjumpa dia, haha.

 Tiba di Banda Aceh dengan selamat pada pukul dua belas, di Gedung SKB lampineung. Saya tidak susah mencari lokasi gedungnya karena mengandalkan google map. Sampai disana langsung mencari dikamar yang mana Mas Daniel tidur. Dan rupanya beliau sedang mendengar lantunan bacaan Al-Quran dari aplikasi radio yang ada di iphonenya bersama Jamal (Jamaluddin Phonna, Ketua Umum Aceh Documentary). "Jeeeeh, teungku lagoe (jeh, Teungku kok)" sapa Jamal seperti biasa. Mas Daniel hanya senyum, kemudian menyodorkan tangan sambil menyebut nama, " Akbar Mas". "Apa kabar, bar?" tanya Mas Daniel. " Baik Mas" jawabku singkat. Kemudian Jamal memotong dengan semangat, "droen Teungku tim toh neucok? (kamu bar akan supervisikan tim mana?)". Aceh Documentary berprinsip untuk mengirim seorang supervisi untuk mendampingi setiap tim finalis yang lolos lima besar, yang filmnya akan diproduksi. Terlalu hebat memang disebut supervisi, karena pengalaman kami yang akan mendampingi para finalis ini tidak lebih bagai seorang santri yang belajar di kelas 6, mengajar santri kelas 5 di pesantren salafiah. Namun demikian, beberapa diantara kami pernah diberi materi, bagaimana menjadi supervisi (baca:pendamping) selama beberapa hari, dan saat itu sangat menyiksa. Kami diperas habis-habis. Diperintah untuk membedah ide cerita peserta dan menghadirkan kemungkinan-kemungkinan yang kami sendiri tidak merisetnya, hanya berdasarkan resume riset yang ditulis sehalaman A4. Kemudian latihan membuat foto story hingga membuat film berdurasi dibawah 5 menit dalam waktu kurang dari 5 jam. Ini diberikan agar kami bisa mengatasi segala masalah yang akan terjadi dilapangan nanti, terkait peserta, interaksi mereka dengan subjek filmnya, perselisihan antara kedua peserta, hingga masalah teknis seperti pengoperasian kamera DSLR, audio shotgun, dan lain-lain. Kami diberi petuah oleh orang di department produksi, agar gambar yang diambil tidak lari dari script yang telah peserta buat di in house training, juga gambarnya harus memenuhi standar tayang di layar festival (jangan sampai blur dan goyang parah). Supeervisi yang dipilih adalah alumni yang menjadi finalis tahun-tahun sebelumnya. Ini bermaksud menambah jam terbang mereka dalam film dokumenter.

  "Bukankah kali ini tidak diambil supervisi dari alumni?" tanya saya sama Jamal. "ah, masa, tetap seperti biasa, kamu dan kawan-kawan lain akan menjadi supervisi lagi" Jawab Jamal yakin. Kemudian ia melanjutkan, " ada 5 tim yang lolos, dua dari Aceh Selatan, dan masing-masing satu dari Meulaboh, Aceh Tengah, dan Aceh Utara". " Saya dari Aceh Utara saja" jawab saya spontan. Dalam bayangan pikiran, hanya Aceh Utara yang dekat dengan Sigli. Tahun sebelumnya saya menjadi supervisi untuk tim dari Banda Aceh, yang filmnya berjudul "Tanoh Akhe". Dan sukses menjadi film terbaik dalam malam penganugerahan Aceh Film Festival 2016. Kemudian Jamal bercerita singkat terkait sinopsis dari film yang berasal dari Aceh Utara tersebut. Rupanya lokasi pengambilan gambarnya jauh dari perkiraan saya. Aceh Utara, bukan Lhokseumawe. Desa Meurandeh Paya, masuk lima belas menit dari simpang Sampoiniet, Aceh Utara, dua puluh menit jika dari Panton Labu. Hati saya jadi gundah. Sebelumnya saya memutuskan untuk tidak lagi menawarkan diri menjadi supervisi, Menjadi supervisi sangat menguras tenaga dan fikiran secara bersamaan. Namun akhirnya saya yakinkan diri untuk mengiyakan tawaran Jamal.

Daniel Rudi Haryanto, senior filmmaker dokumenter
   Saya selalu terasa gundah ketika mendapat satu tanggung jawab, apakah bisa saya lakukan dengan baik. Entah tanggung jawab itu yang diberikan orang lain atau yang saya beratkan bagi diri sendiri. Seperti sedang menulis tulisan ini, saya sedang melakukan riset untuk film dokumenter yang akan saya sutradarai bersama dia (inshaaAllah akan saya tulis juga pengalamannya). Namun yang membuat saya agak sedikit tenang adalah, dukungan yang datang dari Suhiel Bustami, editor senior di Aceh Documentary. Dia juga yang membantu saya ketika menjadi supervisi untuk film "Tanoh Akhe". Selama tujuh hari saya di Banda Aceh bersama peserta, membantu mereka mengembangkan ide cerita, menceritakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di lapangan. Juga tentunya bercerita tentang pengalaman yang dialami peserta sebelumnya. Inilah alasan kenapa saya selalu senang  menjadi bagian dari Aceh Documentary Competition setiap tahunnya. Bercerita adalah obat yang bisa membunuh kejenuhan. Seperti saat saya menulisan tulisan ini, haha.

Peserta Aceh Documentary Competition 2017 dengan tema "Keumang"

Setelah tujuh hari mendapat training tentang film dokumenter, mulai dari sejarah film dokumenter, hingga hal teknis, dan materi editing film dokumenter, peserta akan kembali ke daerah masing-masing untuk proses pengambilan gambar (shooting). Begitu pula para supervisi, termasuk saya. Saya berencana untuk pulang ke Sigli dua hari sebelum berangkat ke Aceh Utara. Saya akan bercerita tentang pengalaman selanjutnya di Aceh Utara saat proses produksi di bagian kedua, ditunggu ya, terima kasih sudah membaca, jangan lupa menulis di kolom komentar jika kalian punya pertanyaan.

1 comment:

  1. What's up colleagues, its great piece of writing on the topic of teachingand completely defined, keep it up all the time. capitalone.com login

    ReplyDelete