Recent Posts

Contributors

Me Before You, sekilas mirip dengan The Intouchables

Wednesday, 2 November 2016
Minggu ini bosan dengan film aksi dan sejarah, maka saya mencoba untuk menonton sebuah film romansa. Setelah googling dengan kata kunci film romantis 2016, alhasil muncul judul film "Me Before You". Dari posternya saya mencoba menebak drama romantis ini akan menjadi seperti film romantis kebanyakan. Namun film romantis holywood selalu menawarkan cerita yang tidak bisa kita duga, Cerita baru dengan realitas yang berbeda.

Film ini adalah drama romantis yang disutradarai oleh Thea Sharrock dan diadaptasi dari novel Jojo Moyes dengan nama yang sama. Film ini dibintangi oleh Emilia Clarke, Sam Claflin, Jenna Coleman, Charles Dance, Matthew Lewis, Ben Lloyd-Hughes dan Janet McTeer. Film ini dirilis pada 3 Juni 2016 di Inggris.



Sisi menariknya adalah, Emilia Clarke yang kelahiran Inggris, berbicara dalam aksen British. Setiap pengucapannya selalu menjadi sesuatu yang saya tunggu. Seperti Imogen Poots dalam film Need For Speed. Disini, Emilia Clarke adalah seorang pelayan di sebuah kafe lokal, tanpa ambisi dan hanya memiliki sedikit keahlian. Dia selalu dibayang-bayangi oleh adiknya yang singel mother dan luwes. Akhirnya dia bekerja sebagai perawat orang cacat di sebuah rumah orang kaya, setelah mendepatkan pekerjaan itu di Job Center. Louisa (Emilia) bertugas mengurus semua kebutuhan Will Traynor ( Sam Claflin) yang kehilangan kendali atas tubuhnya setelah kecelakaan ditabrak kendaraaan.

Pekerjaan yang dilakukan oleh Louisa sepertinya tidak akan kita temui di Aceh dahulunya. Kehidupan sosial di barat dan timur jelas berbeda. Dalam buku Psikologi Perkembangan, Elizabeth B. Hurlock menjelaskan bagaimana hubungan keluarga di timur lebih akrab dari pada di barat. Umur 17 tahun, remaja barat sudah diberi hak untuk tinggal terpisah  dengan orang tua, baik itu tinggal bersama pacar atau sebagainya. Hal ini berbeda dengan sebagian besar keluarga di timur, yang masih mengenal istilah keluarga besar.

Film ini ingin menyampaikan bagaimana kekuatan pikiran. Pikiran terbuka dan positif mampu mengubah persepsi kita terhadap sesuatu. Will yang menganggap hidupnya tidak lagi bermanfaat, sebagai pria yang sempurna, akhirnya mau mencoba hal baru bersama Louisa. Inilah yang pernah saya alami, kita tidak boleh menganggap sepele sesuatu, kadang hal tersebut yang bisa mengalihkan suasana hati kita kepada lebih bahagia.

Yang suka dengan aksen Britishnya Emilia dan kehidupan Inggris dataran tinggi, film ini sangat memanjakan mata untuk dinonton.

 

2 comments:

  1. saya baru baru ini juga nonton film ini, tapi sayang endingnya hmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar, endingnya memang gak enak, tapi begitulah taste si sutradara

      Delete