Recent Posts

Contributors

Nilai, Negeri Sembilan

Sunday, 9 October 2016
 Dari KL Sentral, pusat perhentian semua transportasi di Kuala Lumpur, kami naik KTM Komuter ke arah Seremban. Seremban adalah ibukota dari Negeri Sembilan, salah satu wilayah Negeri yang ada di Malaysia. Tujuan utama kami adalah Nilai. Salah satu kota yang termasuk kedalam wilayah Negeri Sembilan. Nilai hanya berjarak lebih kurang satu jam setengah dari Kuala Lumpur menggunakan KTM Komuter bila naik di stasiun KL Sentral. Melewati beberapa stasiun, diantaranya stasiun UKM, Kajang, Bangi, Batang Benar, akhirnya kami tiba di Nilai.


Suasana kesibukan di KL Sentral

 Sejak turun pertama kali, saya sudah melihat kesederhanaan dari sebuah kehidupan disini. Nilai jauh dari kemewahan Kuala Lumpur. Stasiun KTM Komuternya pun terlihat sederhana. Lantai ubin tua menandakan tidak ada renovasi ke taraf wajar sebuah stasiun, tapi keadaan stasiun ini sudah termasuk bagus dengan standar keselamatan.Pegunungan rendah mendominasi daerah Nilai, dengan perkebunan kelapa sawit di kiri-kanan badan jalan. Sesekali dalam lima ratus meter kami bertemu dengan kuil kecil orang hindu yang ada di pinggir jalan, menandakan ada orang India yang tinggal di Nilai. Jalan dengan lebar lebih kurang 10 meter membuat laju kendaraan tidak terhambat. Dari stasiun Nilai, kami menuju Taman Gadong Indah, kemukiman Labu. Sebenarnya bisa saja turun KTM Komuter di stasiun Labu, satu stasiun lagi setelah Nilai. Taman disana berarti perumahan. Perumahan yang terdiri atas rumah huni, dan beberapa kedai runcit, kedai serba ada, serta kedai lainnya. 



Stasiun KTM di Nilai

 Untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari warga Gadong Indah tidak harus keluar dari perumahan, karena ada kedai-kedai yang menjual kebutuhan mereka. Pemilik kedai-kedai ini memasok barang dagangan mereka dari kedai grosir yang lebih besar. Biasanya mereka ke Bandar Baru Nilai atau ke Nilai 3 untuk membeli barang dalam jumlah besar dan menjualnya di kedai di Taman Gadong Indah. Salah satu hal yang menarik perhatian saya, ketika berkesempatan pergi ke pusat perbelanjaan Nilai 3, adalah kedai karpet dan gorden. Hampir semua kedai disini menjual karpet,permadani dan gorden. Menurut cerita seorang kawan yang menjadi mahasiswa di Universitas Kebangsaan Malaysia, Nilai terkenal dengan pusat penjualan karpet dan permadani terbesar di Malaysia. "Bila ada orang Aceh yang berencana pergi ke Nilai, pasti akan ditanya apakah hendak membeli karpet?" Cerita mahasiswa tadi.


Deretan Kedai Runcit di Nilai

 Orang Pakistan mendominasi penjualan karpet disini. Mereka membuka kedai tiga hingga empat pintu sekaligus. Bangunan kedai permadani dan karpet hanya satu lantai dengan panjang 12 hingga 20 meter dan lebar 7 hingga 10 meter. Untuk memasok barang dagangan, bagi Syarikat (italic) besar, langsung memesan dari China atau Pakistan. Butuh lima belas menit perjalanan menggunakan mobil menuju Nilai 3 dari Taman Gadong Indah. Hari sudah maghrib ketika kami tiba di Nilai 3. Saya ikut bersama salah satu pemilik kedai runcit (kedai serba ada) asal Aceh yang telah dua puluh lima tahun tinggal di Nilai. Beliau ingin mengambil barang dagangan di salah satu toko grosir langganan di Nilai 3.


Salah satu kedai karpet di Nilai 3

 Penjualnya orang China. Sangat sedikit orang Melayu yang tinggal di Nilai. Nilai didominasi oleh orang China, Bangladesh, dan Pakistan, sebagian kecil orang Aceh. Karena bertepatan dengan hari raya Imlek, banyak ditemui atribut lampion berwarna merah disepanjang jalan raya di Nilai. Ini yang menunjukkan bahwa orang China banyak tinggal disini. Nilai juga dekat dengan Bandara Kuala Lumpur International Airport dan pusat pemerintahan Malaysia, Putrajaya. Bila kita mengemudi langsung ke arah Seremban dengan melewati Nilai dari Kuala Lumpur, kita akan tiba di Melaka. Jalan ini adalah salah satu jalan bukan tol yang bisa membawa kita ke Melaka melewati Lukut Town dan Pantai Port Dickson. Berkedaraan melalui jalan ini memberikan suasana khas melayu. Bahasa melayu yang digunakan masyarakat di Negeri Sembilan sebagian besar sama dengan bahasa Minangkabau, Padang. Konon, katanya zaman dulu masyarakat Minang bermigrasi kesini dalam jumlah besar. Sultan yang memimpin Negeri Sembilan ini juga keturunan Padang, Sumatera Barat. Maka tidak akan asing jika orang Padang pergi melancong kedaerah ini. Suasana kota yang tidak riuh, nyaman, dengan suara burung-burung pegunungan menjadi ciri khas kota Nilai. Bangunannya pun tidak tinggi-tinggi seperti di Kuala Lumpur dan Putrajaya.


Jalan menuju Nilai dari stasiun

 Taman (Perumnas) mendominasi wilayah pesisir Nilai. Pusat perbelanjaan tersebar di berbagai daerah Nilai, diantaranya Bandar Baru Nilai (BBN), Nilai 3, Labu, dan Taman Semarak. Pegunungan di Nilai berstruktur batu karang, di lereng-lerengnya yang gambut, ditanami kelapa sawit. Ketika hujan, air turun dari pegunungan rendah tersebut langsung ke perkebunan sawit dibawahnya. Kita bisa melihat perkebunan sawit di Nilai pertama kali ketika berada di pesawat terbang dan hendak mendarat di Bandara Kuala Lumpur International Airport. Suhu udara ketika kami berada di Nilai mencapai 33°C. Hal ini mungkin disebabkan hampir semua pegunungan diwilayah Putrajaya dan Bandara KLIA diratakan untuk dijadikan bangunan atau pengubahan hutan menjadi kebun kelapa sawit. Bila Anda merencanakan perjalanan ke Malaysia, dan Anda seorang pejalan yang tertarik dengan kehidupan masyarakat lokal, bisa sekali berkunjung ke Nilai, Negeri Sembilan.

2 comments:

  1. Di Negeri Sembilan ada banyak suku, termasuk Minang yang mendominasi dan juga suku Anak Aceh. Jadi memang bahasa Nogoghi (bahasa negeri sembilan) sama dengan bahasa Minang. ^^

    ReplyDelete
  2. Iya benar, daerah yang menarik saya kunjungi ke Negeri Sembilan adalah Nilai, ada tulisannya, yuk baca hehe

    ReplyDelete