Recent Posts

Contributors

London Town, I fought the law, the law won

Sunday, 16 October 2016
 London, kota yang memiliki sejarah musik panjang. Musik untuk perubahan, revolusi, menentang ketidakadilan penguasa. Lahir tokoh-tokoh revolusi lewat musik. Band-band dengan lirik yang dijadikan ayat suci oleh kelas pekerja yang menginginkan revolusi.


Sebelum tsunami, ketika saya beranjak naik kelas 2 SMP, saya mulai dikenalkan dengan aliran musik punk dan rock oleh teman saya, Fandi. Sebelumnya bahkan saya tidak suka musik, dan tidak mau tau untuk itu. Kemudian hingga kami berkunjung ke Banda Aceh, tepatnya ke toko abang sepupu Fandi di Pasar Aceh lantai 2, disana dijual barang-barang yang berbau punk, mulai dari kaset vcd konser Linkin Park hingga gelang berduri. Entah kenapa, akhirnya saya beli satu vcd Linkin Park saat konser di Texas. Hidup saya mulai berubah saat itu.Saat pergi ke sekolah,saya menata rambut acak-acakan, mirip rambut Crish Bennington, vocalis Linkin Park. Saya mulai mengenal Limp Bizkit, Green Day, Red Hot Chilli Peppers. Sungguh masa remaja yang memberontak.


Menonton film ini, mengembalikan memori saya. Ceritanya, tentang seorang Shay, yang tinggal bersama ayahnya menjaga toko reparasi piano klasik. Ibu Shay seorang penyanyi yang meninggalkan mereka untuk pergi ke London, memikirkan hidupnya sendiri, London Calling, sperti judul lagu The Clash. Film ini bersetting tahun 70-an di London, saat revolusi menuntut kesamaan hak antara kulit hitam dan kulit putih. Sejarah ini memang unik, sejarah musik di London maksud saya, tidak jauh-jauh dari suppporter sepak bola. London memang tidak jauh dari Musik dan sepak bola. Aliran Skin Head, Punk rock juga menghiasi sepak bola Inggris. Katanya, musik di Inggris bisa menggerakkan perubahan. Seni adalah sesuatu. Saya masih ingat kisah salah satu personel The Beatles yang di keluarkan dari sekolah karena gila musik, akhirnya ibunya membeli ia sebuah gitar, saat itu pada masa perang dunia kedua. Dan kamu tahu sendiri bagaimana The Beatles dengan karya-karya mereka.

Trailer



Shay yang tinggal bersama ayahnya yang beraliran musik klasik, berubah setelah berjumpa dengan seorang gadis sebayanya di kereta api menuju ke London saat ingin membeli suku cadang piano untuk ayah. Vivian, nama gadis itu, mengajaknya ke konser The Clash. Shay punya seorang saudari putri yang lugu, yang akhirnya juga jadi seorang punker. 

Isu sosial keluarga banyak dibahas di film ini. Namun yang menarik adalah karakter Shay, anak lima belas tahun yang sangat peduli kepada keluarga, dan berani melakukan hal-hal konyol. 

Film ini cocok dinonton oleh penggila musik rock, punk,  atau yang menyukai sejarah musik kota London. Kamu siap menggerak-gerakkan kaki saat menonton film ini?

Lets Rock baby

4 comments:

  1. Bereh, mantan penggila punk rupanya,,hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha..tapi nye kalon aneuk miet jinoe di peu punk-punk droe roh teukhem

      Delete