Recent Posts

Contributors

Penjarahan Situs-Situs Sejarah Dunia

Wednesday, 22 June 2016
Sejarah manusia adalah kisah terhebat yang pernah dituturkan, satu-satunya cara kita dapat memahami sepenuhnya adalah jika kita mengungkapkannya bersama-sama.

Peneliti dari Organisasi Mapesa Foto: MAPESA ACEH


Menggali masa lalu demi keuntungan sudah ribuan tahun menjadi profesi. Pengadilan penjarah terawal di Mesir yang diketahui terjadi di Thebes pada 1113 SM.Gerombolan penjarah yang dipimpin tukang batu pemberani merampok makam yang dipahat pada batu. Si tukang batu dan kaki tangannya  divonis bersalah dan mungkin dihukum mati dengan cara ditusuk.
Pasukan penyerbu juga pernah menggondol benda kuno Mesir. Dari abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-20, ketika Mesir dikuasai bangsa asing, tak terhitung benda masa lalunya yang dikirim ke pusat-pusat budaya di luar negeri melalui pemberian, perdagangan, atau pemaksaan.

Penggalian makam Tutankhamun Foto: Sainstory


Penjarahan di Mesir meningkat setelah dampak ekonomi global  dan revolusi 2011, ketika pasukan keamanan pemerintah menghilang. Sebagian penganggur pun menjarah untuk bertahn hidup.Penjarah di Mesir itu berstruktur seperti piramida tingkat empat. Tingkat dasarnya, mungkin tiga per empat tenaga manusia, terdiri atas warga desa miskin yang pengetahuannya tentang medan dan monument setempat itu penting untuk menemukan barang jarahan. Tingkat kedua adalah perantara yang menampung benda dari penggali lokal dan mengatur pekerja menjadi berkelompok. Pemain tingkat ketiga melarikan barang antik ke luar negeri dan menjualnya ke pembeli asing di puncak piramida penjarahan. Laba semakin tinggi ketika artefak menaiki tangga piramida. Sebagian penjarah tingkat kedua menjual seharga  10 kali lipat dari yang dibayarkan kepada penggali.
Baru-baru ini, penjarahan barang peninggalan sejarah juga terjadi di Suriah. Sejak pecahnya perang bersaudara di Suriah pada 2011, penjarahan melonjak ke tingkat yang merusak. ISIS mengorganisasi dan mengatur penjarahan, menggunakan jarahan itu untuk membantu membiayai operasinya. Pada Agustus 2015, pasukan ISIS menyalakan kamera, melapisi tiang-tiang kuil Baaldshamin dengan peledak, dan meledakkan bangunan yang berusia hampir 2000 tahun itu hingga hancur berkeping. Ini salah satu dari daftar panjang perusakan budaya sistematis yang dilakukan ISIS, didokumentasi dengan bangga dan dipajang di media sosial untuk ditonton dunia. Konflik di Suriah diwarnai oleh kekejian tak terperi, hukuman mati di depan umum, pemenggalan, penculikan, perbudakan, dan pembunuhan atau pengusiran warga sipil, warisan budaya bersama di wilayah itu merupakan salah satu dari sekian banyak korban konflik.

Pendudukan ISIS di Suriah Foto: Reuteurs


16 Mei 2015, Pasukan khusus AS melakukan serangan malam di benteng ISIS, target mereka: Kepala Divisi Sumber Daya Alam ISIS, Abu Sayyaf. Abu Sayyaf tewas dalam pertempuran yang menyusul, tetapi pasukan AS menemukan informasi penting tentang cara ISIS memanfaatkan barang antic untuk membiayai operasi mereka. Di pasar gelap, mereka menukar artefak dengan senapan untuk membunuh dan meneror. ISIS juga mengeluarkan izin tertulis perorangan spesifik untuk menggali di wilayahnya, memajak penjarah untuk apapun yang diperolehnya. Situs-situs pun dirusak, penuh lubang dan artefak berharganya dijarah habis. ISIS memandang harta ini, seperti harta di Tadmur, sebagai cara untuk memaksakan ideologinya pada dunia dan secara langsung membiayai kegiatannya. Dipihak lain dunia memandang harta ini sebagai sejarah tak ternilai, warisan budaya bersama, yang hancur berkeping.
Ribuan kilometer dari Suriah, penemuan batu nisan berukir di Aceh sedang maraknya. Tinggalan sejarah ini bisa merekontruksi  kembali kerangka sejarah Aceh secara keseluruhan berdasarkan inskripsi yang tertulis pada batu nisan. Sebuah organisasi masyarakat yang peduli kepada sejarah Aceh (MAPESA), secara rutin melakukan gotong royong menyelamatkan artefak berharga sejarah Aceh. Disamping itu, kolektor muda manuskrip Aceh, Masykur, dengan biaya sendiri mencari manuskrip kuno yang diabaikan masyarakat untuk dikumpulkan dan bisa jadi bahan penelitian terhadap sejarah Aceh secara mendalam.
Batu Nisan Aceh Foto: Facebook MAPESA



Pada akhirnya, manusia punya dua sifat yang saling bertolak belakang, sifat iblis dan malaikat. Mereka yang mengikuti hawa nafsu untuk bertahan hidup akan menjual leluhurnya untuk kekayaan. Mereka yang ingin mencari jati diri akan menemukan leluhur mereka untuk diceritakan kepada anak cucu.

1 comment:

  1. dan aceh juga tidak luput dari penjarahan bukan?

    btw, bahasanya kok kayak terjemahan Bar? :D

    ReplyDelete