Recent Posts

Contributors

Tafsir Sains

Monday, 2 May 2016

Di zaman modern seperti sekarang, sains yang semakin berkembang, menjadi rujukan setiap orang.Hingga Al-Quran pun dipaksa sesuai dgn temuan-temuan sains saat ini.Seperti beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca sebuah tulisan di blog yang judulnya "facebook telah dibahas dalam Al Quran ratusan tahun lalu" ,oh mungkinkah? setelah saya baca, ternyata si penulis blog berpedoman pada ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa "manusia diciptakan dalam keadaan banyak berkeluh-kesah,ketika ditimpa musibah, meratapi, ketika senang, lupa kepada Allah". 


Merujuk pada seringnya seseorang meng update status yang bersifat keluh kesah, dan tak ada status saat mendapatkan rezeki, penulis serta-merta meng-klaim kebenaran Al-Quran dgn "facebook" tersebut.Ini jelas berbahaya. Nabi telah bersabda; dari Ibn Abbas; 

من قال فى القران برءيه فاليتبوء مقعده من النر 

Barangsiapa yang berkata mengenai Al Quran dengan pemikirannya sendiri, maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di dalam neraka (HR Turmidzi) 


Al-Quran bersifat absolut,sedangkan sains bersifat relatif, sesuatu yang absolut tidak bisa dibenarkan dgn yang relatif.Kebenaran Al Quran mutlak,menembus batasan ruang dan waktu, tetapi sains tidak demikian, sesuatu temuan sains yang dianggap benar hari ini bisa saja dimentahkan diwaktu mendatang oleh temuan yang lain, bagaimana jika ia membenarkan suatu ayat Al Quran?dan ketika temuan tersebut di klaim salah, apakah Al Quran juga salah? maka hati-hatilah mentafsir maksud dari suatu ayat Al Quran, karena kita bukan dari golongan mufassirin, dan jgn coba-coba mencocok-cocokkan ayat Al Quran dgn kehendak kita, karena Nabi telah menjanjikan neraka kepada orang yang berani mengatakan ttg Al Quran dgn pikirannya sendiri tanpa merujuk ayat yg lain yang berkenaan, atau Hadist, juga asbabun nuzul ayat tersebut.

Ulama berbeda pendapat dalam menyetujui tafsir Al Quran dgn merujuk pada sains, seperti yang dilakukan Syeikh Tantowi Jawhari, dalam tafsirnya yang berjudul Tafsir Al-Jawahir (25 jilid).Tapi corak tafsir seperti ini belum disepakati oleh para ulama.Diantara yang menolak tafsir merujuk pada sains ini adalah Dr.Mahmud Syaltut, beliau menegaskan menolak mentafsir Al Quran yg disesuaikan dgn sains, beliau memaparkan argumen2 yang kuat dalam menolak corak tafsir seperti ini, sebagaimana dalam tulisan beliau di majalah Ar Risalah, edisi 407 dan 408 tahun ke 9 ,April 1941.Yang senada dgn beliau adalah Dr Amin Al Khauli, beliau juga menolak corak tafsir ini dalam kitabnya, at tafsir; ma'alimu hayatihi-manhajuhul yaum.Dalam at tafsir wal mufassirin, Dr Muhammad Husain adz zahaby memaparkan pendapat Imam Asy Syatibi, yang dengan tegas menolak tafsir ini,Asy Syatibi menolak tafsir sains (tafsir al ilmi) kedalam Al Quran, dengan alasan alasan yang kuat. 

Tidak sembarang orang bisa masuk kedalam ranah penafsiran Al Quran, misalnya, hanya berbekal terjemahan, seseorang bisa langsung memberi makna sesuai kehendaknya pada Al Quran,orang semacam ini adalah seperti yg Nabi janjikan dgn neraka.Dibutuhkan syarat-syarat untuk seseorang mentafsir Al Quran, misalnya dengan menguasai ilmu alat, yang menunjang tafsir, seperti Ulumul Quran, meliputi nasikh-mansukh, asbabun nuzul, munasabatul ayat, makki madani, hadhari-safari, laili-nahari, dll.juga dibutuhkan ilmu bahasa, ilmu nahwu, sharaf, ma'ani, bayan, badi',qiraat, ushuluddin, ushul fiqh, hadist2 Nabi, dll. 

Sedangkan mengenai klasifikasi tafsir Al Quran, ada tafsit bir-riwayah, tafsir bid-dirayah, tafsir bir-ra'yi.Tafsir bir-riwayah adalah mentafsir Al Quran dangan Al Quran, mentafsir Al Quran dengan hadist, dan mentafsir Al Quran dengan perkataan sahabat, adapun tafsir bid-dirayah, bisa mengarah pada dua kemungkinan, benar atau salah.hal demikian, karena tafsir model ini bertumpu pada ijtihad, jika ijtihad yang dilakukan oleh seseorang yang sudah mumpuni, dengan berdasarkan pada metodologi yang absah, serta tidak dilakukan secara membabi buta, maka hasilnya bisa dibenarkanmdan disebut tafsit bir-ra'yi al mahmud,tafsir dengan ijtihad yang terpuji. 

Dari pembahasan diatas maka sangat mungkin penafsiran Al Quran dengan menggunakan temuan sains, atau istilahnya mencocokkan Al Quran dengan temuan sains (walaupun sebenarnya boleh-boleh saja, seperti yang dilakukan Adnan Oktar -Harun Yahya- ,namun itu hanya untuk memperkuat keimanan kita kepada Allah dan Al Quran, bahwa ianya tidak lekang oleh zamanmdan teknologi) dan menjustifikasi penemuan serta teori ilmu pengetahuan dengan ayat-ayat Al Quran, sangatlah berbahaya, sebab Al Quran bisa dianggap salah jika suatu ketika teori ilmiah itu terbukti kesalahannya, atau dipatahkan oleh penemuan lain dengan bukti yang lebih kuat. 

Maka sebagaimana tujuan utama Al Quran untuk petunjuk umat manusia,jangan dijadikan sebagai pembenar kehendak kita.Memang terdapat banyak ayat-ayat sains dalam Al Quran, tapi itu hanya untuk membuktikan kekuasaan Allah. 

No comments:

Post a Comment