Recent Posts

Contributors

Kenapa Indonesia Jadi Tak Sabar

Monday, 2 May 2016

Pagi yang kurang menyenangkan,tapi saya mencoba mengubahnya dengan membaca National Geographic edisi Maret 2013.Kali ini artikel Kembali Ke Kota Sungai.Artikel yang menceritakan tentang perubahan kota kecil Fuling di Cina yang berubah maju.Artikel ini ditulis oleh seorang mantan guru yang pernah mengabdi di Fuling, beliau adalah Peter Hessler.Setelah satu halaman membaca,saya tergugah untuk menulis catatan ini,selain alternatif mengobati,juga bisa jadi bahan renungan kita. 


Fuling terletak dipersimpangan antara Sungai Yangtze dan Sungai Wu, dan pada pertengahan 1990-an masih sangat sunyi dan terpencil.Tidak ada jalan raya atau jalur kereta api disana.Orang asing merupakan pemandangan aneh disana.Dibutuhkan waktu tujuh jam untuk menumpang fery Yangtze menuju Chongqing,kota besar terdekat disana. 

Ketika itu,masa pendidikan di Fuling Teacher College hanya tiga tahun menjadikan posisinya nyaris terbawah diantara perguruan tinggi lainnya di Cina.Tetapi murid-murid Hessler bersyukur karena memperoleh kesempatan untuk belajar.Hampir semua mahasiswa disana berasal dari pedesaan dengan tradisi pendidikan rendah;bahkan banyak yang memiliki orang tua buta huruf.Tetap saja mereka mengambil jurusan bahasa Inggris-langkah luar biasa di sebuah negara yang tertutup selama sebagian besar abad ke 20.Esai mereka bertutur tentang kemuraman dan kemiskinan,tetapi juga tentang harapan besar: "kampung halaman saya tidak tekenal karena bukan tempat asal mula benda,hasil bumi,dan orang terkenal dan juga pemandangan yang terkenal.Kampung halaman saya kekurangan orang yang punya keahlian....Saya akan menjadi guru dan akan sebisa mungkin mendidik banyak orang agar memiliki keahlian. 

"Ada pepatah lama di Cina: 'Semiskin-miskinnya si majikan, si anjing akan tetap mencintainya; seburuk-buruknya si ibu si anak akan tetap mencintainya. Itulah perasaan kami. Saat ini kami bekerja keras, dan kelak suatu saat kami akan melakukan apapun yang kami bisa untuk negeri ini." tulis Hessler 

Saya selalu merinding ketika membaca kisah2 loyalitas,kesetiaan seseorang atau kelompok kepada suatu atau negara mereka.Indonesia? semoga saja

No comments:

Post a Comment