Recent Posts

Contributors

ENERGI FOTO

Sunday, 20 April 2014
Pada 1854, Soren Kierkegaard,filsuf Denmark dengan sinis
meramalkan masa depan suram fotografi. "suatu masa seseorang
akan dapat mengambil potret mereka sendiri, padahal dulu hanya
orang penting yang dapat melakukannya. Begitu pula Einsten,
pernah menyamakan fotografer dengan "monyet yang tertarik
pada sinar" . Namun bagaimana perkembangannya saat ini, berjuta
foto diunggah dalam hitungan detik, di facebook, instagram,
twitter.Dalam berbagai moment, sengaja atau tidak.Foto memang
tidak sehidup video. Video menceritakan secara real
time.Menggambarkan setiap gerakan, hampir tidak ada interpretasi
yg dapat diajukan untuk sebuah video (jika kita mengabaikan sisi
editing nya).Tapi Video tak bisa mengalahkan sisi eksotis sebuah
foto, imajinasi yg ditimbulkan oleh sebuah foto dapat mengubah
perilaku dunia.Pedagang emas Swiss yg gemar memainkan harga
menghentikan pembelian emas mereka di Kongo hanya karena
melihat foto karya Marcus Bleasdel di sebuah pameran di
Jenewa.Bagaimana dengan foto seorang gadis cilik Afghanistan,
Sharbat Gula berusia 12 tahun yang diabadikan oleh Steve
McCurry pada 1984 di kamp pengungsian di Pakistan dapat
mengetuk hati para senior PBB dan HAM.
Sebuah foto bisa dinikmati layaknya makanan khas suatu
negeri.Foto jadi santapan imajinasi, masuk kedalam ruang yang
tidak pernah nyata, penuh ilusi, berbanding terbalik dengan
objeknya yg nyata.Foto itu hidup, lebih hidup dari video.Sisi
eksotisnya adalah menghentikan gerak laju objek yg mungkin tidak
pernah bisa dihentikan, tapi lensa LEICA,Canon mampu
melaksanakan.Sebuah foto yang bagus dapat secara total
membuka jendela dunia dan sepenuhnya mengubah cara pandang
kita
Manusia lebih senang bersantai dangan sesuatu yang tenang, hal
ini tidak akan didapatkan dari sebuah video.Foto memberi
ketenangan bersamaan dengan liarnya imajinasi.menghentikan
gerak laju usia bumi, seakan ada waktu jeda terhadap umur kita
ketika memandang sebuah foto dan kita berlama-lama
dengannya.Teman saya pernah mengajukan argumen, "sekarang
foto tidak bisa dinikmato sebagai kenangan, video lebih real time,
kita dapat menyaksikan kembali peristiwa dengan seakurat
mungkin" .Foto tak jauh beda dengan sebuah lukisan, tidak
banyak orang yang berusaha datang jauh seperti yang terjadi pada
pengunjung Louvre hanya untuk melihat Monalisa tersenyum sinis.
Dunia yang bahkan tidak pernah kita bayangkan indahnya terekam
dengan kamera para fotografer, penggembala rusa kutub Sami,
geisha Jepang, dan burung-burung nirwana Nugini.Senyum,
Tangis, Kebencian, Rasa Sinis, tak bisa dipisahkan oleh video, tapi
kamera foto masih bisa menjadikannya terpisah.Maka tak
berlebihan bila saya mengatakan foto adalah nafas kehidupan

No comments:

Post a Comment