Recent Posts

Contributors

20 Tahun Lagi Bahasa Aceh Punah?

Tuesday, 24 July 2012



Satu hal yang diperlukan untuk kebangkitan bahasa,adalah kebanggaan.

National Geographic  edisi Juli 2012,menyebutkan satu bahasa punah setiap 14 hari.Sebelum abad berganti,hampir setengah dari sekitar 7000 bahasa yang dipakai di bumi mungkin akan punah,karena masyarakat mengganti bahasa ibu mereka dengan bahasa Inggris,Mandarin, atau Spanyol.Pertanyaan yang mungkin muncul dari benak saya adalah,Apa yang hilang ketika suatu bahasa lenyap?

Ada kebanggaan muncul ketika penduduk pribumi menutur dalam bahasa global tersebut,sebaliknya pula ada keterasingan dalam bahasa ibu mereka.Indonesia,walaupun masih jauh dari peringkat kritis,tapi sebagian besar bahasanya telah termodifikasi bersama dengan terimpornya budaya global.Pasti Anda lebih sering menyebut e-mail daripada surel (surat elektronik),dan handphone daripada telepon genggam atau telepon seluler.Lain hal dengan suku Seri di Gurun Sonora,Meksiko,mereka adalah suku semi nomaden.Ketika mereka mengimpor kemewahan modern dari Spanyol,tanpa disertai nama Spanyolnya.Tak ada kata Spanyol untuk mobil disana.Peredam knalpot mobil disebut ihiixasim an hant yaait, atau “pernapasan turun kedalamnya”.Sementara istilah Seri untuk tutup busi dikaitkan dengan ikan pari listrik yang berenang di Teluk California yang bisa menyetrum.Hal yang diperlukan untuk suatu bahasa agar bisa bangkit adalah kebanggaan penuturnya

Hancurnya keanekaragaman hayati dunia yang sedang terjadi merupakan  metafora yang tepat bagi krisis kepunahan bahasa.Lenyapnya suatu bahasa,berarti lenyap pula pengetahuan yang sama berharganya dengan obat ajaib masa depan yang mungkin akan raib ketika ada spesies yang punah.Bahasa minoritas melebihi bahasa mayoritas ,menyimpan kunci untuk membuka rahasia alam,karena penuturnya cenderung hidup akrab dengan tanaman dan hewan disekitar mereka,dan pembicaraan mereka mencerminkan pengamatan tersebut.Ketika komunitas kecil nusantara meninggalkan bahasanya dan beralih menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris,banyak kekayaan tradisi yang tidak terwariskan ke generasi selanjutnya;mengenai tanaman obat,budidaya tanaman pangan,teknik irigasi,sistem navigasi,dan kalender musiman.

Apa kabar Basa Aceh?

Dalam pengamatan pada media sosial,pengguna yang berasal dari berbagai daerah di Aceh cenderung menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris.Walaupun kadang apa yang ingin mereka sampaikan tidak ada kosakata dalam kedua bahasa tersebut,dan pemaksaan pun terjadi.Apa tidak lebih baik penyampaiannya dalam bahasa Aceh saja?

Mungkin pendapat  bahasa adalah sekedar alat komunikasi ada benarnya.Jadi kita boleh menggunakan bahasa apa saja asal lawan bicara kita mengerti.Tapi dibalik semua itu ada hal yang lebih mendalam dari sekedar alat komunikasi,budaya.Budaya diwariskan lewat bahasa.Betapa banyak dari kita yang mengerti tentang budaya Aceh?Walaupun Anda menjawab mengerti,tapi budaya yang Anda ketahui itu hanya sebagian kecil,dan saya yakin Anda memperoleh pengetahuan tersebut dari buku-buku yang tidak bisa mewariskan kebudayaan secara hidup.

Bahasa mengiringi kekuasaan.Dalam era yang kian mengglobal dan homogeni,bahasa-bahasa yang mendominasi komunikasi,perdagangan,birokrasi dunia melompati batas geopolitik dan geografi.Tidak ada pengamanan khusus terhadap invasi bahasa asing sebagaimana pengamanan terhadap batas geografis,dan mungkin tidak perlu.Tapi invasi sesungguhnya adalah invasi bahasa.Bahasa yang lebih kecil tersingkir ke ambang kepunahan.

Di Australia,orang Aborigin tercerai-berai setelah kehilangan tanah adatnya.Dan bahasa mereka,yang kini berjumlah 150,pupus perlahan-lahan.Siberia Timur,Kebijakan pendidikan meredam penggunaan sekitar 20 bahasa pribumi,mengutamakan bahasa Rusia dan Sakha,bahasa daerah yang dominan.Di dunia,penutur lebih dominan berbicara dalam 10 bahasa utama,diantaranya; 90 juta jiwa untuk bahasa Jerman, 122 juta untuk bahasa Jepang, 144 juta untuk Rusia, 178 juta Portugis, 181 juta Benggali, 182 juta Hindi, 221 juta Arab (termasuk semua variannya), 328 juta Inggris, 329 juta Spanyol, dan 1,213 juta China (termasuk variannya). (Sumber: Living Tongue Institute For Endangered Languages, Unesco)

Mungkin tidak ada yang lebih takut akan kehilangan bahasa minoritas kecuali pemiliknya dan para ahli bahasa.Kita yang awam akan hal tersebut bahkan tidak peduli,sebagaimana saya pernah dengar seseorang bahkan menghakiminya dengan ucapan “kan tidak berdosa?”.Benar,ucapan tersebut tidak bisa disanggah.Namun apa yang terjadi jika bahasa nenek moyang itu punah? Kita hanya bisa mencari segala suatu dari yang bersifat modern.Kesehatan,keseimbangan hidup,obat-obatan,dan sebagainya.Tak ada lagi keanekaragaman budaya, ritual yang khusyuk.perjalanan spiritual.

Lebih dari itu, generasi penerus masa depan yang seharusnya menampakkan identitas daerah asalnya,justru melenyapkan hal itu.Anda pasti mengetahuinya,dan apa yang musti dilakukan?

Jawabannya saya serahkan kepada Anda.Dan semoga tulisan ini menyadarkan kita akan hal yang penting.

No comments:

Post a Comment