Recent Posts

Contributors

Makna Mendalam dari "Wat Peu"

Saturday, 9 June 2012



                Beberapa bulan berlalu,istilah ini semakin enak diucapkan untuk hanya sekedar bersenda gurau,membuat suasana menjadi hangat,mempererat hubungan antar individu yang semula hanya akrab sebatas menyebutkan nama panggilan sebagai kata untuk tegur-sapa.Tapi beberapa bulan juga kata ini semakin popular hanya untuk iseng berkomentar di media social facebook.
                Diucapkan dengan sedikit cepat,kata  wat peu? ini sebenarnya hanya sekedar penegasan terhadap sesuatu yang membuat orang takjub,kagum,dan sebagainya.Kata ini adalah potongan dari kata gawat dan peu (wat = gawat ).Karena di ucapkan cepat,kata yang semula gawat,hanya kedengaran wat-nya saja.Entah terdapat didalam kamus Basa Aceh atau tidak,kata gawat ini sebenarnya berarti berbahaya.Namun disini,artinya sedikit di miringkan,maksudnya bukan berbahaya harus dihindari tapi bermakna sesuatu untuk respon terhadap pencapaian yang mengagumkan.Kita juga bisa menyamakan istilah ini dengan kata yang lebih familiar,yaitu gawat that,gawat that lagoe! Kedua istilah ini adalah ungkapan orang Aceh untuk menyatakan kekaguman,ketakjuban terhadap sesuatu keberhasilan atau bisa saja untuk merespon perbuatan ganjil seseorang.
                Ini murni kata-kata,tidak demikian dengan ekspresi bunyi  yang muncul menjadi kata-kata seperti ah, uh, ehm,huft,eaa,dsb.Lagi pula ini adalah khazanah lokal yang harus dipopulerkan demi menjaga kelestarian budaya daerah yang telah didominasi K-Pop atau sekedar bahasa gaul ibukota. Saya lebih akrab dengan pengungkapan wat peu dari pada bahasa gaul ibukota ala artis sinetron bersambung.Kadang kita masih setengah-setengah dalam mencintai kebudayaan daerah.Yang paling absurd adalah ketika mempromosikan Banda Aceh untuk dikunjungi,menjulang papan baliho dengan tulisan Visit Banda Aceh,apakah kata-kata Jak tajak menarik?
                Kembali ke wat peu,sebenarnya ada satu ungkapan yang mendahului,yaitu wat en? Potongan dari ucapan gawat ken? Permintaan pendapat seseorang terhadap pencapaian dirinya.Kadang kata wat peu ini diucapkan berulang-ulang dan diakhiri dengan tawa,menciptakan suasana hangat antara dua orang yang sedang mengobrol.
                Ketimbang memilih kata-kata gaul seperti kamseupay yang menjadi semacam duta yang dikirim ibu kota untuk menyeragamkan ekspresi daerah yang beragam,lebih baik mempertahankan warna lokal seperti wat peu ini,agar kesannya tidak monoton.Dan memberi peringatan bahwa daerah tidak miskin khazanah yang harus tunduk kepada pusat,Indonesia berdiri atas semboyan Bhinneka Tunggal Ika,bukan berarti kita harus meninggalkan budaya daerah agar seragam dengan menyerap habis gaya hidup urban Ibukota Jakarta.Mari berbahasa Aceh,atau bahasa Indonesia dengan aksen Aceh,tidak ke-jakarta-jakartaan.
               
                

No comments:

Post a Comment